Friday, December 12, 2008

Sistem anti tabrakan

Volvo xc60 sebuah mobil SUV baru dari Swedia telah dirilis dengan fitur baru bernama nama "City Safety - Kota yang Aman", mobil ini dilengkapi dengan pendeteksi ciuman eh tabrakan di jalan raya, sehingga bisa menghindari kejadian yang kita semua tidak inginkan tersebut, tidak lupa fasilitas standar seperti airbags, anti selip, bahkan ada rem otomatis yang bisa mengkudeta sopir jika dalam keadaan bahaya. Kota aman ini beroperasi pada kecepatan 30 kilometer per jam atau 19 mil per jam, dipilih pada kecepatan itu karena sebagian kecelakaan ada pada kecepatan tersebut katanya, khususnya pada keadaan jalan yang penuh sesak dan macet sehingga jalannya pelan-pelan kayak semut yang menimbulkan emosi para pengendara. Fitur ini menggunakan laser yang terletak di belakang saluran udara untuk mengamati keadaan di depan mobil, menghitung kecepatan dan jarak. Rem otomatis bekerja jika ciuman tidak bisa dihindarkan, hal ini juga berfungsi ketika parkir sehingga bisa rapat, teratur dan efisien.

Sejumlah pabrik juga sudah mengenalkan rem otomatis seperti Daimler dari Jerman juga menggunakan fitur ini dengan memakai radar pada beberapa mobil keluaran Mercedes Benz dengan nama Distronic, juga mengoperasikan rem otomatis dan penyesuaian antara rem dan kecepatan untuk menjaga jarak yang konstan dari mobil lainnya. Fitur ini langsung mengambilalih komando sopir ketika tabrakan hendak terjadi, jika sopir siap ketika dia menginjak pedal rem, maka rem akan otomatis bekerja dengan kekuatan penuh meskipun tidak diinjak penuh, ataupun ketika sopir lengah dalam menginjak pedal rem, fitur ini langsung mengerem sendiri secara otomatis.

Keamananan di jalan

Hal ini disebut 'intelligent' vehicle safety systems yang memiliki kemampuan untuk membuat jalan raya menjadi lebih aman, di amini juga oleh penelitian yang dilakukan oleh VTT Technical Ressearch Center, sebuah organisasi peneliti dari Finlandia. Elektronik kontrol stabilitas ini akan menaikkan kemampuan handling mobil dengan deteksi dan membantu mencegah roda agar tidak mudah selip. Penelitian menunjukkan jika seluruh mobil di Eropa menggunakan sistem ini maka akan mengurangi 17% jumlah kematian dari kecelakaan jalan raya, dan menurunkan 13% dari kecelakan yang diakibatkan dari sopir yang lalai dan keluar jalur. Alarm peringatan batas kecepatan akan menyelamatkan fatalitas kecelakaan sejauh 13%. Sistem yang sudah ada dapat dikombinasikan, misalnya kamera penunjuk marka jalan di BMW seri 7 dapat juga untuk menunjukkan indikator kecepatan pada dasbor untuk menunjukkan batas-batas kecepatan.

Sistem keamanan ini memang mahal namun akan digunakan oleh sebagian besar mobil mewah seperti antilock brake system. Hal ini akan membuat mobil menjadi 'aware' waspada terhadap sekitarnya. Meskipun perlengkapan yang cerdas bermunculan, Jan Ivarsson, kepala bidang keamanan mobil Volvo, sangat yakin untuk dapat membuat mobil yang ramah dan tidak akan membuat orang terluka atau terbunuh. Pabrik Volvo bereksperimen untuk membuat mobil yang dapat menyetir sendiri ketika berhadapan dengan mobil lain dari depan, ataupun mengenali pejalan kaki yang melintasi atau menyeberang jalan dan mengeremnya.

Pada tahun 2009 Daimler akan memperkenalkan perangkat yang memperingatkan sopir dari kelelahan. Alat ini menggunakan beberapa sensor untuk mengatur profil dari cara seseorang menyetir dan membunyikan alarm jika ia terpisah dari alat itu. Secara khusus, alat ini memonitor perilaku sopir, ketika ia menjadi agak aneh atau berbeda polanya, ini merupakan indikator yang baik untuk rasa lelah. Daimler juga bereksperimen tentang cara untuk membuat rem mobil otomatis jika trafic light menyala merah.

Kebanyakan dari sistem keamanan pada awalnya adalah memberikan peringatan bahaya sebelum mengambil alih kontrol. Meski ada jeda waktu sistem ini seperti yang dikatakan Rodolfo Schonenburg, Kepala sistem keamanan pasif Daimler, menjelaskan bahwa sebagai "electronic crumple zone" menerapkan pengereman agak sedikit terlambatpun pada akhirnya akan mengurangi akibat buruk dari berciuman eh tabrakan.

Terkadang memang tidak ada toleransi untuk beberapa keterlambatan tindakan menghindari kecelakan, seperti ketika di lampu merah dalam keadaan jalan yang sangat ramai dan macet pastilah ada mobil yang melanggar lampu merah. Hal ini menunjukkan bahwa sistem keamanan ini harus dapat bekerja secara mandiri, dalam keadaan yang sangat cepat, dibandingkan dengan reflek atau kemampuan manusia. Namun jika mobil dapat bergerak sendiri secara otomatis semuanya, hal ini juga perlu dipikirkan kembali, karena bisa 'pating blasur' juga, dan menimbulkan kekhawiran yang lain.

Kekhawatiran para periset juga adalah, sebagai contoh ketika ada anak kecil yang berlari ke jalan yang ramai. Ketika salah satu mobil secara otomatis menghindar dan mengerem mendadak, akan merangsang mobil yang lain untuk mengambil tindakan juga. Akibat dari respon otomatis ini dapat menimbulkan kematian yang lebih banyak, cedera, dan kerusakan yang lebih mahal. Jadi para periset saat ini juga memikirkan bagaimana caranya masing-masing mobil dapat saling mengirimkan informasi, berkomunikasi dan berkoordinir tentang manuver yang akan dilakukannya saat itu untuk menghindari kecelakan kata Thomas Batz dari Institut Fraunhofer untuk Pengolahan Data dan Informasi di Karlsruhe, Jerman.

Karyanya adalah bagian dari proyek yang lebih luas pada "kognitif mobil" dengan melibatkan kelompok lain, termasuk Universitas Karlsruhe dan Technical University di Munich. Tahun lalu beberapa peneliti mengikuti Urban Challenge, sebuah acara yang diadakan oleh Agensi Proyek penelitian keamanan mendalam (DARPA) untuk menghasilkan kendaraan yang mampu beroperasi sendiri di dalam kota. DARPA ingin menggunakan teknologi tersebut untuk memproduksi kendaraan robot untuk mendukung militer di wilayah konflik.

Dukungan

Mr. Batz dan koleganya memikirkan perangkat lunak yang dapat mengumpulkan informasi dari sensor-sensor di mobil untuk dapat dipergunakan sebagai pengatur perilaku kelompok kendaraan yang ada saat itu ketika dalam keadaan darurat. Hal ini akan memperpendek perintah-perintah mesin otomatis, seperti ketika ada pejalan kaki yang menyeberang maka 2 mobil di depan yang menuju ke arah yang sama, atau ke pinggir, sementara dua lainnya dibelakang harus mengerem secara cepat, atau tetap saja berjalan di pinggir jika tidak ada pejalan kaki yang terdeteksi. Serta sistem ini juga harus dapat mengenali mobil yang tidak memakai sistem keamanan serupa.

Para produsen mobil juga sudah memikirkan hal tersebut juga. Seperti Daimler, percaya bahwa informasi tentang berat dan kekuatan kendaraan dapat diinformasikan sebelum tabrakan terjadi secara instan, kemudian sistem pertahanan akan merespon untuk pengencangan sabuk pengaman, sehingga antisipasi dapat dioptimalkan. Insinyur-insinyur Volvo juga memimpikan mobil yang dapat mendeteksi bahaya jalan licin. Beberapa GPS juga sudah dilengkapi dengan peringatan akan kemacetan lalulintas.

Kolaborasi sistem anti tabrakan ini tidak hanya menghadapi tantangan dalam hal teknis, namun juga dalam bidang hukum, seperti ketika ada satu mobil yang memberikan instruksi kepada mobil yang lain untuk melakukan gerakan darurat otomatis, yang mengakibatkan tabrakan pihak ketiga? dan belum ada keyakinan bahwa sistem semi-otonom ini akan memberikan keringanan dalam menghadapi kecelakaan, seperti yang terjadi pada pilot pesawat terbang dengan kokpit yang sudah dikomputerisasi.

Akhirnya, jawabannya adalah sangat mungkin komputer akan mengambil alih segala tindakan dan menyetir mobil seperti layaknya robot. Mercedes E-Class dengan kelangkapannya dapat berjalan minggir atau ketengah sendiri untuk menghindari keramaian dan mencari jalannya sendiri. Pengalaman yang diperoleh DARPA juga memberikan keyakinan tentang kemungkinan mobil dapat mengatasi keramaian dn antrian lalulintas, khususnya dalam pandangan mesin yang lebih canggih. Sedikit demi sedikit, akan datang saatnya untuk masuk ke mobil dan berkata "Pulang ke rumah"

inspirasi dan sumber dari http://www.economist.com/science/displaystory.cfm?story_id=12758720