Thursday, December 11, 2008

Juwita

Indah tak terperi, Jauh tiada terhingga, dekat bagai kesatuan, luas tak terbantahkan, lurus bagai peluru sang sniper, disayangi hingga dibela mati, di benci hingga dibela mati jua.

Memberi harapan bak intan gemilang, bercahaya tiada nan pudar, harum semerbak wangimu, bahkan intan dan bunga terharum tak sanggup tandingimu, kaulah juwita sang penebar wewangian.

Hanya insan sempurna nan tahu dan paham, kemana arah dirimu membuai, membela, memberi pengetahuan nan abadi, tak lekang di makan zaman, dirimu lah intan tak ternilai, intan termahal, intan terhormat, namun sebaliknya tak dianggap bagi insan tak mengetahui, tak memahami, tak mengamalkan, oh juwita.

Bulan, matahari, bintang gemintang, debu, satwa dan manusia menjadi saksi, keharumanmu, kekekalanmu, kekuatanmu, keperkasaanmu, tiada nan menandingi, siapa akan menganggu pasukanmu kan bertarung terhormat.

Kesejukan dalam buaian tetes embun pagi hari, slalu datang dalam irama yang teratur, tiada terasa, tiada sangka halus lembut, bodohnya diri ini jika mengingkari kanyataan, yang tlah kau limpahkan tetes demi tetes yang menyejukkan nurani dan kalbu, tiada pernah kau tertidur, meski kedamaian tlah menjagamu, dan keemasan yang senantias kunanti, dalam suka maupun duka, sepahit bunga kanthil yang pohonnya menjulang lurus, selurus wangi aromanya...

Duhai juwita sang penerang hati, bagaikan bulan dan matahari yang selalu menerangi bumi, tiada pernah mengeluh dan ikhlas menerima tantangan dan cobaan, duhai kekasih ... selamat hari kemenangan, hari kesaksian atas kebaikan untuk seluruh alam dan isinya.