Monday, December 29, 2008

Isak sang Dewi

Alkisah di sebuah belahan dunia yang majemuk laksana kumpulan dewi-dewi yang seksi, sabar, cantik menawan, kaya raya, rendah hati, lugu, terbuka, tangguh, berwarna-warni dan berjubel antrian untuk dapat ditulis tentangnya.

Dewi ini menjadi impian (imajiner kata Ben Anderson) ini, hanya ada dalam impian dan pikiran semata. Laksana sekumpulan dewi-dewi yang menjadi idaman banyak satria, dalam keseksian, tingkah laku, sifat dan kepribadiannya yang tulus dan selalu berkembang untuk mengarungi hidup yang dicita-citakannya.

Sudah banyak para satria yang mencoba menjadi pasangannya, sejak jaman dahulu kala, seperti satria-satria Sriwijaya, Majapahit dan Mataram yang pernah mesra mengarungi jalannya waktu dalam kedamaian dan kejayaan pada masanya. Tidak ketinggalan para bajak laut yang berkepribadian kapitalisme pernah menjadi pasangannya dalam mengarungi zaman namun dengan merobek-robek dan membuatnya menjadi sakit yang berkepanjangan, dan dia pula yang memberi nama Hindia Timur secara asal karena saking bodohnya dan sok pintar tidak bertanya pada yang berhak.

Sampailah kemudian sang dewi-dewi ini di bawa ke sebuah pintu gerbang kejayaan untuk secara merdeka menentukan nasibnya bersama, dalam sebuah bingkai yang diangankan oleh seorang satria menjadi sebuah kekuatan sosial dan politik yang dibatasi oleh geografis rumah-rumahnya. Gegap gempita mereka bersorak, bersuka ria dengan penuh harapan, keyakinan akan kekuatan dan kerukunan yang menjadi landasan bersama.

Seiring berjalannya waktu para dewi ini berjalan bersama menghadapi kekuatan dari luar, namun banyak juga pengorbanan harus diberikan untuk mempertahankan mimpinya, beberapa ingin mencari pasanganya sendiri namun masih bisa diingatkan oleh yang lain, hingga kadang harus dengan kekerasan untuk mempertahankan mimpi ini. Karena tidak sedikit pendekar berwatak jahat yang menginginkan kenikmatan ciuman atau mencumbui keelokan yang seakan tidak ada habisnya, hingga banyak menyisakan trauma yang berkepanjangan meninggalkan benih-benih percekcokan para satria yang semakin lama hanya menginginkan kepuasan sesaat tanpa mempedulikan sakitnya vagina sang dewi.

Pernah juga para pendekar berwatak jahat itu mendandani para dewi dengan pakaian, parfum, beha, celana dalam, rumah, mobil, bahkan kasur yang sama, untuk kemudian dijebak, ditakut-takuti dan diperkosa beramai-ramai hingga melahirkan anak-anak yang penakut, cacat, dan perwatakan-perwatakan yang aneh seperti mudah curiga, mudah mengamuk, suka mencuri, memfitnah, merampok, bahkan seperti pendahulunya menjadi pemerkosa. Hanya para pendekar pilihanlah yang bisa memahami mimpi-mimpi mulia para dewi ini, namun kadang dalam ketulusannya malah mudah disakiti dan bahkan dibunuh baik secara nyata maupun dibunuh kemanusiaannya.

Hingga pada suatu ketika pemimpin pendekar berwatak jahat ditumbangkan oleh para satria muda, namun belum juga benih-benih yang dilahirkan dari kebiadaban pemerkosa itu hilang dengan bersih, bahkan dengan liciknya mencoba menjual dewi-dewi cantik untuk dinikmati hidung belang manca dengan harga yang murah, mereka telah melacurkan para dewi ini secara lahir dan bathin. Sehingga semakin sengsaralah anak-anak sang dewi karena ulah para pendekar berwatak jahat yang tidak memiliki kekayaan imajinasi dan pemahaman cerdas sebagaimana yang pernah dijanjikan para satria dahulu sehingga membuat para dewi terpesona.

Saat ini para dewi sedang menangis terisak-isak karena dililit hutang dan melihat anak-anaknya harus berjubel antri sembako bahkan minyak yang keluar dari nadi-nadi di payudaranya disedot oleh orang lain, mineral dan batu bara yang tersimpan dibalik kulitnya yang ranum pun dijual murah untuk orang lain, bukan untuk anak-anaknya yang harus berjuang mati-matian mempertahankan hidup dan menanti kesengsaraan selanjutnya bersamanya hingga menyadari arti mimpi dan mewujudkannya dalam ancaman angkara murka yang semakin kuat saja.