Thursday, December 18, 2008

Gerakan Legowo Internasional

Legowo, legawa, berserah diri, menerima kenyataan dalam bahasa Indonesia, sehubungan dengan gelapnya masa depan dunia dalam hal energi, kesehatan, dan kesejahteraan penduduk dunia yang terpilah dalam ras, keyakinan, suku, bangsa, politik dan administrasi. Menyadari dan menerima kenyataan bahwa semua bangsa di bumi ini memiliki keinginan yang sama untuk aman, sehat, makmur, bahagia, dan dapat melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.

Standar-standar perilaku dan batasannya dari ideologi hingga yang mikro-mikro di rumah tangga berasal dari kompromi-kompromi kepentingan para pelakunya, untuk kemudian dipaksakan ke komunitas internasional, kita, orangtua dan anak-anak kita. Kadang menjadi hal gila diluar nalar dan pemunahan sekelompok manusia yang tidak mau dipaksa dengan hasil kompromi yang sudah dihasilkan. Dari banyak kompromi itupun menghasilkan klaster-klaster, bahkan kategori yang besar-besar dengan sub kategori yang banyak sekali, celakanya hal itu seakan menjadi jalan hidup, berkolaborasi dan didukung fanatisme yang rela dibela dengan nyawa.

Nyawa dikorbankan untuk membela kepentingan atas nama sesuatu yang dibuat oleh manusia itu sendiri, dan sudah biasa jika menghilangkan nyawa orang lain untuk sesuatu yang dibuatnya sendiri atas nama kepentingan bersama dalam tanda petik yang sebenarnya tidak memiliki makna hakiki dalam tugas kehidupan sebagaimana maksud tujuan untuk apa kita ada di dunia ini. Kesengsaraan dan pembunuhan masal memang sudah direncanakan oleh manusia sendiri untuk kepentingannya, dan dilakukan secara resmi berdasarkan kompromi yang dibuatnya, seperti perjanjian Giyanti, Bretton Woods, Linggarjati, Camp David, dan lain sebagainya yang mengakibatkan kerugian ekonomi maupun sosial.

Sekarang di pintu gerbang kesengsaraan dunia yang dibuat oleh sekelompok manusia sendiri, seharusnya segera disadari akan kompromi-kompromi atau kebijakan atau regulasi yang salah dan selalu mengorbankan manusia yang lainnya, secara langsung maupun tidak harus segera dibenahi, dirombak bahkan jika perlu jangan dipakai lagi. Sekolah dan sains diarahkan kepada pengembangan inteligensia yang sebenarnya yaitu kesimbangan logika dan jiwa, agar dapat menepis pemikiran-pemikiran yang jauh dari keseimbangan dan merusak kehidupan. Pentafsiran tentang kekayaan, kemajemukan, kesejahteraan dikembalikan pada nilai yang semestinya, bukan menumpuk harta, dan mendapatkan kesejahteraan sendiri tanpa melihat lingkungan sosial yang timpang.

Resesi global bisa menjadi sinyal untuk mengubah banyak definisi tentang kemewahan, ekonomi, laba, kesejahteraan, kekayaan dan sebagainya yang sudah disalah artikan sebagai tujuan kehidupan, tanpa melihat sekitarnya yang menjadi korban atas ambisi pencapaiannya. Produsen-produsen kemewahan sampe hasil bumi saat ini sedang dirundung malang, apakah ini sebuah pertanda untuk merenovasi bumi ini, kembali ke titik nol, legowo menerima kenyataan dan memulai lembaran baru kehidupan yang lebih adil dan beradab, atau menunggu lebih parah lagi.

Dimana-mana orang bicara resesi, berlomba-lomba menjadi ekonom, memberi suntikan dana, rangsangan ekonomi, bingung mau investasi kemana, tanpa melihat saudaranya di Zimbabwe, Kenya, Somalia, yang karena keganasan para ekonom menciptakan sistem ekonomi dunia ini, menjadi super melarat dan entah mau apa lagi hidupnya. Bahkan para pencari Tuhan yang berada di tanah suci pun - yang menghabiskan biaya ribuan dollar per kepala -, mungkin tidak berpikir atau bahkan tidak tahu mana itu Zimbabwe yang inflasi 200 juta persen, dan kehebatan wabah koleranya. Inilah yang namanya lingkaran setan, bilakah kita keluar dari lingkaran ini?

Keruntuhan raksasa-raksasa ekonomi membuat kita harus legowo, sportif, menjadi pemain yang sopan dan fair. Legowo melihat akar masalah yang ada, legowo menurunkan harga-harga yang sudah diluar perikemanusiaan, legowo menyadari bahwa harga komoditas yang semakin naik adalah ekuivalen dengan membunuh saudara-saudara kita yang kurang beruntung, legowo mengevaluasi peraturan-peraturan yang hanya membela pemilik modal, legowo menyadari bahwa jika tetangga sengsara adalah kekurangan kita, legowo berjihad memperbaiki kesalahan-kesalahan kolektif yang telah dilakukan, legowo menanam kebaikan yang berkelanjutan, dan masih banyak lagi.

Keniscayaan ini harus mulai dibangun dari pribadi-pribadi hingga ke penentu keputusan, akan berhasil jika teguh pada kebersihan hati, iman kepada keadilan dan hak asasi manusia. Marilah kita membangun cinta keadilan yang legowo, dan siap kapanpun berteriak lantang menyerukan legowo tanpa kekerasan kepada kedunguan politik, tirani modal, penguasa sumberdaya, pelaku dan pembela kebusukan-kebusukan agar sadar bila tidak ingin ditikam oleh pisau keadilan, zaman dan alam semesta, yang sudah menunjukkan sinyalnya.

18 comments:

  1. ...lingkaran setan, bila semua tak peduli lagi...

    "mandiri atau mati"

    ReplyDelete
  2. wees jian...postingan yang revolusioner, saya ndak bakalan mampu bikin postingan sebagus ini...salam hangat selalu sesama wong Jogja...

    ReplyDelete
  3. saat para gajah bertarung, pelanduk selalu mati di tengah2 ya! :(

    ReplyDelete
  4. aku sependapat dengan alenia akhir. legowo. mabur digondol lowo,hi..hi..

    ReplyDelete
  5. Wah kalo cinta sudah berbicara mungkin sgalanya akan diam

    ReplyDelete
  6. Postingnya bagus :) legowo hanya bisa dicapai kalau semuanya memahami esensinya masing2...

    ReplyDelete
  7. Posting yang bagus...
    Kerusakan bumi memang ulah tangan manusia.

    ReplyDelete
  8. + perlawanan hati : ...dan semua terjebak tanpa sadar...
    + Abahrafi : tiada seindah cinta, dan semurninya...
    + Tukang Nggunem : jogja kota revolusi bung...sama2 blajar ya
    + astrid savitri : saatnya pelanduk ...mengeroyok gajah
    + Kristina Dian Safitry : lowo sutro...bisa lebih ngakak...haha
    + Harry potter : karena kalo sdg ber ..thit.. tdk diam...bisa capek ( sambil merem melek)
    + Rumah Islami : iya..esensi..ah esensi..sangat dalam...
    + Erik : diakui ato tidak kita ikut tgjwb bang..

    ReplyDelete
  9. Tulisannya mantabbb...terutama kalimat "...para pencari Tuhan yang berada di Tanah Suci pun - yang menghabiskan biaya ribuan dollar per kepala -, mungkin tidak berpikir atau bahkan tidak tahu mana itu Zimbabwe yang inflasi 200 juta persen, dan kehebatan wabah koleranya."

    Tapi, menurut saya, kelegawaan itu tak bakal pernah ada dalam kamus ekonomi para pemilik modal di planet ini. Begitulah yang dinyatakan Mbah Marx. Kapitalisme dan bukan kapitalisme itu tidak ada hubungannya dengan moral (baca: kelegawaan, kerelaan). Hukum persaingan bebas adalah yang memaksa mereka untuk tidak mau legawa.

    Para non-pemilik modal, jangan pasrah atas keadaan yang ada. Kemiskinan bukanlah takdir. Jangan pernah legawa menjadi miskin. Demikian Sjahrir mengatakan.

    ReplyDelete
  10. + Ullyanov : betul sekalee mas, makanya diajak untuk legawa dulu, sebelum terjadi episode saling tikam, plus belati nuklir ...weee ngeri temen mas

    ReplyDelete
  11. memang susah ya bersikap legowo ditengah situasi dan tekanan dewasa ini..

    ReplyDelete
  12. legowo.
    gimana dengan kata kritis?
    dua kata yang sangat bertentangan.
    sikap mana yang anda pilih?

    ReplyDelete
  13. + Achiles™ : nggak susah asal tahu masalahnya, dan legowo untuk follow up nya
    + AiWY : tidak bertentangan mas, jalan panjang ke legowo melalui kompromi dan debat yang sengit, baru pihak-pihak tsb bisa legowo berdampingan mengurai dan berjalan bersama, semacam tatanan baru lah...

    ReplyDelete
  14. makasih dah komen di blog saya, mampir lagi yak. ada yang baru

    ReplyDelete
  15. Wah artikel yang sangat menarik. Legowo kata sederhana tapi kaya makna. Seandainya semua orang memiliki rasa / sikap legowo niscaya tidak ada kesengsaraan, tidak ada perang dan dunia akan damai.

    Tentang istriku, sekarang sudah sembuh dan baru saja pulang dari rumah sakit. Terima kasih atas doa dan tipsnya. Salam sukses selalu. Seno n keluarga.

    ReplyDelete
  16. iya banyak tuh orang gak legowo klo lengser...hikss

    ReplyDelete
  17. Itu hamir tiga tahun lalu ditulis tetapi isinya masih relevan sampai hari ini di mana sikap legawa semakin sulit ditemukan

    ReplyDelete