Friday, December 26, 2008

Engah....

Empat tahun yang lalu, di hari ini bersama teman-teman sibuk memasukkan barang-barang seperti sandal, selimut, tenda hingga pakaian yang akan dikirim ke Papua bagi para saudara yang terkena bencana di sana.

Beberapa kontainer sedikit demi sedikit kami selesaikan hingga matahari agak condong ke barat. Kemudian beristirahat dan berencana pulang setelah paket tersebut berangkat ke tujuannya. Rasa lelah tergantikan dengan bayangan kesukacitaan para saudara yang nantinya menerima benda-benda tersebut.

Hingga kemudian mendengar berita tentang air laut yang menerjang ujung barat pulau Sumatera, sangat memukau dan mengerikan air yang menggenangi tempat itu. Lebih mengejutkan lagi adalah jumlah korban yang setiap saat di update selalu bertambah hingga puluhan ribu korban. Betapa hadiah akhir tahun yang paling mengerikan saat itu, duniapun tercengang melihat pemandangan yang begitu menakjubkan sekaligus mengerikan itu.

Hingga terjadinya Gempa Jawa yang meluluh lantakkan Jogja pada Mei 2 tahun setelah Tsunami di Aceh, baru kemudian bermunculan kesadaran akan kebencanaan yang agak progresif. Sangat kelihatan di saat-saat kritis itu peran lembaga non pemerintah yang biasanya dimusuhi oleh birokrasi karena lantang berbicara, dengan akses yang dimilikinya bisa dengan langsung berkoordinasi dan menurunkan apa yang dibutuhkan korban, tidak harus melalui aturan-aturan dan birokrasi yang berbelit-belit dan tidak sampai ke tujuan. Uniknya lagi lembaga-lembaga non pemerintah itu setelah otoritas kekuasaan menguasai medan langsung ditendang hingga tidak kelihatan lagi di permukaan.

Hal itu adalah masa-masa indah bagi penanganan kebencanaan, indah karena uang masih banyak dan belum terkena tsunami keuangan global. Sulit membayangkan ketika nantinya sumberdaya untuk menangani hal ini tidak ada karena masing-masing negara sibuk mengurusi pengangguran dalam negerinya. Ketika semua orang merasakan ketidakadilan, kezaliman, dan saling mencurigai.