Monday, November 3, 2008

sweeping buku H.M. Misbach Kisah Haji Merah

Menyambung berita sweeping buku H.M. Misbach Kisah Haji Merah karya Nor Hiqmah yang disweeping oleh Kejaksaan Agung dengan cara langsung mendatangi toko buku Gramedia Matraman, kami lampirkan dibawah ini tanggapan dari teman-teman.

Ini dari Ibu Melani Budianta (Pengamat Budaya dari FIB UI):

Rizal yang baik,
Saya prihatin akan kejadian ini dan memberikan dukungan pada Anda dan teman-teman di komunitas bambu agar tidak gentar dan tidak surut untuk memperjuangkan keberanian untuk berpikir kritis. Perlu ditekankan bahwa palu arit dan segala emblem yang diharamkan adalah bagian dari sejarah masa lalu kita. Membicarakan masa lalu tidak bisa tidak berkaitan dengan emblem-emblem tersebut. Mudah-mudahan yang berwenang dapat diyakinkan untuk membedakan, mana advokasi atau propaganda politik, dan mana kajian sejarah dan karya seni. Sampul buku Komunitas bambu adalah hasil karya seni yang mengangkat persoalan sejarah,
Salam,
Melani

Ini komentar dari Pak Asvi Warman Adam (Sejarawan LIPI):
  1. Tolong dicek lagi, apakah betul karya Nor Hiqmah satu-satunya skripsi di Indonesia yang membahas Haji Misbach. Skripsi Nor Hiqmah dipertahankan di Fakultas Filsafat UGM. Kalau saya tidak salah juga ada skripsi tentang Haji Misbac di jurusan sejarah sendiri seperti di UI. Mohon informasi dari Depok.
  2. Buku-buku yang memakai judul Palu Arit justeru tidak menampilkan gambar palu arit atau arit di sampulnya seperti Hermawan Sulistyo, Palu Arit di Ladang Tebu, Jakarta: KPG, sejak 2000 mengalami beberapa kali cetak ulang, dan Michael Williams, Arit dan Bulan Sabit, Pemberontakan Komunis 1926 di Banten (kata pengantar Sartono Kartodirdjo), Yogya: Syarikat,2003
  3. Gambar Palu Arit justeru dipopulerkan dan dimasyarakatkan oleh para penulis anti komunis seperti terlihat pada sampul-sampul buku mereka. Lihatlah
  • Mayjen (pur) Samsudin, Mengapa G30S/PKI Gagal ? Suatu Analisis (pengantar Jimly Asshiddiqie), Jakarta: Obor, 2004
  • Aminuddin Kasdi (Universitas Negeri Surabaya) dan G Amber Wulan (Pusat Sejarah TNI), G30S/PKI 1965, Bedah Ceasar Dewan Revolusi Indonesia (pengantar Salahuddin Wahid), Surabaya: Java Pustaka, 2005
  • Alfian Tanjung, Mengganyang Komunis, Langkah & Strategi Menghadapi Kebangkitan PKI (sambutan M Husnie Thamrin, ketua umum KAPPI), Jakarta: Taruna Muslim Press, 2006
  • Alfian Tanjung, Menangkal Kebangkitan PKI, Strategi Perlawanan Nasional Menjaga Keutuhan NKRI (kata pengantar M Husnie Thamrin), Jakarta: Taruna Muslim Press, 2007.
Keempat buku di atas menggunakan gambar palu arit dalam sampul depannya.

H. M. Misbach
Kisah Haji Merah

Karya Nor Hiqmah

160 hlm / 13 x 19 cm / September 2008

Rp 35.000

***

Haji Misbach, seorang haji revolusioner asal Solo yang banyak menulis tentang Islam komunis di suratkabar yang dipimpinnya, Medan Moeslimin. Berbeda dengan Tjokroaminoto yang lebih moderat, Haji Misbach terlibat dalam gerakan antipemerintah kolonial secara radikal dalam Sarekat Rakyat dan kemudian PKI. Menurutnya, “Orang yang mengaku dirinya Islam, tetapi tidak setuju adanya komunisme, saya berani mengatakan ia bukan Islam yang sejati.” Haji Misbach adalah salah seorang pelopor yang sekarang sohor sebagai teologi pembebasan. Ia membuktikan bahwa ajaran-ajaran agama tidaklah tercerabut dari akar sosialnya bila ajaran agama itu sendiri dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Sikap revolusionernya itulah yang membawanya ke pembuangan di Manokwari.

Buku bisa didapatkan di:

KOMUNITAS BAMBU
Jl. Pala 4 B Beji Timur Depok 16422
Telp/Fax: 021-77206987
Sms Pesanan: 0813 8543 0505
email: komunitasbambu@yahoo.com dan
komunitasbambupemasaran@yahoo.com