Tuesday, November 18, 2008

"Siapakah Biang Keladi Tsunami Finansial Yang Sesungguhnya?"

Krisis keuangan yang meng-global dilukiskan sebagai "Badai Keuangan", "Tsunami Keuangan". Merefleksikan keguncangan hati nurani umat manusia, dibandingkan dengan krisis besar perekonomian dunia pada abad lalu tahun 1930-an umat manusia yang terkena dampaknya jauh lebih luas.

Membahayakan bagian yang krusial dalam mata rantai perekonomian global: Currency in circulation (sirkulasi mata uang), yang mengendalikan produksi, barter, konsumen dan nyaris segala yang terkait dengan aktifitas perekonomian, sirkulasi terbendung, peradaban materialisme umat manusia berada dalam ujung tanduk.

Skala pengeksploitasian sumber daya alam dunia pada zaman sekarang dibandingkan dengan tahun 30-an abad lalu teramat besarnya tak dapat diperbandingkan. US$ 700 Trilliun untuk menolong pasar, masih seperti menggarami air laut, bagaikan sepotong serpihan kayu dilarutkan ke dalam cairan baja panas, walaupun semua negara kapitalis bekerja sama dengan koordinasi maksimal, juga hanya bisa menyembuhkan permukaannya tapi tidak ke akar permasalahannya.

Keruwetan hubungan keuangan internasional zaman sekarang, bagaikan belitan sarang laba-laba, selain itu juga melibatkan setiap orang di luar sistem keuangan, ia melibatkan benda yang dicintai setiap insan, uang yang cintanya selalu saja tidak cukup, kekasih abadi yang tak dapat dipisahkan dan dicampakkan umat manusia zaman sekarang yakni: Uang, uang telah menjerat hati manusia.  

Tak peduli bagi seorang pakar perbankan, ataupun bagi orang awam, tak sulit mengenali faktor psikologis penyebab badai keuangan -- pertama-tama adalah keserakahan, kedua adalah arogansi, terakhir adalah ketakutan!

Mereka sekiranya tidak mungkin seperti filsuf Russell yang selama hidupnya hanya melihat cinta, kebenaran dan penyiksaan mendera umat manusia baru terangsang! Di timbangan moralitas dan menang-kalah juga tak urung mencampakkan moralitas dan cenderung memihak pada menang-kalah dan sengaja menutupi informasi penting.

Bila berhasil, laba raksasa menjadi milik diri sendiri, hutang hasil terpecundang, rakyatlah yang menanggung. Ini juga adalah penyebab bila hati manusia merasa didholimi, sehingga sebagian anggota parlemen menentang bila hal itu / dibebankan kepada pembayar pajak?

Menolong pasar walaupun sukses juga sulit memutus asal muasal badai: Keserakahan, materialisasi yang tak bisa dihentikan oleh umat manusia. Sifat kemanusiaan dan moralitas diboikot oleh barang dagangan dan mata uang, peradaban materi zaman kini telah menggantikan peradaban spiritual yang pernah berjaya di dalam sejarah.

"Das Kapital" (Buku karya dedengkot komunis Karl Marx) telah menjelaskan tentang gejala materialisasi umat manusia: "Kaum kapitalis adalah personifikasi dari kapital."

Ketamakan kaum kapitalis telah merefleksikan tuntutan perluasan tanpa batas dari kapital itu sendiri: "Agama penyembah berhala konsumtifisme" - seiring dengan perluasan kapital/modal, keberagaman materi, kekayaan produk dagangan dan "uang yang serba bisa", membuat "Agama penyembah berhala konsumtifisme" atau dengan lain kata agama penyembah berhala uang telah meluas di seantero umat manusia, hampir setiap orang adalah penganutnya, dengan motto yang tipikal: "Saya bahkan tidak percaya kepada diri sendiri, saya hanya percaya pada uang!"

Materialisasi orang AS juga memiliki sebuah proses, marilah kita telusuri sejenak proses ini.

Sejarah telah menjadi masa lampau, hendak menemukannya, terpaksa meminta bantuan kepada  kesusasteraan dimana telah tertinggal jejak kaki sejarahnya.

Kisah Pertama:

Kesusasteraan awal AS langsung dipengaruhi oleh kesusasteraan Inggris dan Perancis dari Eropa, di dalam kerisauan akan plot kisah penuh liku dan fantastis, terkadang tersembunyi hati nurani dan makna dalam bidang moralitas, ini barangkali berkaitan dengan imigran paling awal, kaum penganut Puritan yang lari dari penindasan agama di Eropa dengan menumpang kapal "Bunga bulan Mei".

Yang agak tipikal adalah sebuah novella dari Hobbes, episode tentang seorang wanita petani yang hidup menyendiri tiba-tiba mempunyai anak haram, kala itu, standard moralitas dengan zaman sekarang sangatlah berbeda, sesuai dengan hukum agama dia diharuskan mengenakan pasung kayu untuk dipermalukan di depan umum dan menerima wejangan dari pastur satu-satunya di daerah itu.  

Setelah melalui pencucian moralitas kali ini, si perempuan tani menjadi lebih tulus, sesudah insyaf, dia suka menolong orang lain dan mau berlaku amal.   

Sang suami yang tiba dari perantauan ternyata tidak menyalahkan si isteri; tetapi ayah si anak haram telah menjadi sumber kerisauan di dalam novella tersebut, dimana orang tersebut sudah lama menghilang, sedangkan si wanita petani membisu bagaikan melindungi sesuatu yang suci.

Suami si wanita tani adalah bak tokoh Sherlock Holmes, maka kerisauan dan kemisteriusan novella itu secara bertahap berkembang atas interaksi antara Sherlock Holmes ini dengan si pastur yang semakin lama semakin terkesan misterius, sampai pada akhirnya fakta terungkap: Ayah dari si anak haram ternyata adalah pastur yang memberi wejangan kepada wanita petani.

Mirip dengan cerita detektif, pastur AS yang sulit dideteksi ini, apabila dibandingkan dengan pastur Denmark yang salah tingkah ketika dipergoki oleh petani yang mendadak pulang ke rumah, di dalam almari pakaian disembunyikan oleh isteri petani, di dalam kisah master dongeng Denmark, Andersen, terkesan lebih menghanyutkan dan tua-keladi.

Di dalam perbandingan mencolok antara wanita petani yang merahasiakan sang pastur tapi demi menebus dosa rela menerima penghinaan dengan mengenakan pasung dan sang pastur yang menyembunyikan aibnya rapat-rapat.

Menunjukkan kedalaman kecaman moralitas si penulis, juga merefleksikan pada masa awal terbentuknya negara AS pada 300 - 400 tahun lalu, di dalam masyarakat, secara umum berlaku norma-norma konsepsi moralitas, sedangkan dosa pelecehan seksual terhadap anak-anak oleh anggota gereja yang terungkap belakangan ini di AS, menunjukkan moralitas seksual yang paling diutamakan oleh sang pencipta, sedang mengalami kemerosotan tajam.    

Kisah Kedua :


Rhett Butler dan Scarlett O'Hara.

Epos panjang yang melukiskan kehidupan nyata di dalam sejarah AS adalah novel dari Margaret Mitchell yang dibuatkan film kolosalnya dengan judul "Gone With The Wind".

Di dalam karya tersebut dikisahkah tentang 2 pasang suami-isteri dengan perbedaan yang kontras: Scarlett O'Hara dan Rhett Butler yang terjalin perjodohan sesudah perang Utara-Selatan di Amerika, juga Ashley Wilkes dengan istri tercintanya pra perang saudara tersebut.

Sesuai dengan konsep sejarah teori evolusi pada umumnya, daerah selatan dimana Scarlett O'Hara dan Ashley Wilkes tinggal eksis masyarakat kolot terbelakang dengan sistem perbudakan; sedangkan era pasca perang Utara-Selatan ketika Rhett Butler dan Jessica mendirikan rumah tangga adalah era baru tumbuhnya kapitalisme.

Sesuai dengan konsep sejarah pada umumnya, suami istri Rhett Butler dan Scarlett O'Hara adalah pemenang, adalah kaum elit yang berdiri di baris terdepan: Sedangkan suami istri Ashley Wilkes adalah konservatif, mewakili kaum pecundang yang ditelan dan disingkirkan oleh gelombang pasang zaman kapitalisme.

Namun Margaret bukan mengarang berdasarkan konsepnya, melainkan berdasarkan kesetiaannya kepada wajah asli kehidupan, oleh karena itu terlahirlah epos yang sukses, barulah tidak hanya milik sebuah zaman saja, barulah ada hari ini yang menilai dan untuk mengenangnya kembali.  

Tulisan epos Margaret merefleksikan kecemerlangan karakter manusia yang tidak pernah terpadamkan oleh materi, kekayaan dan uang pada zaman pra kapitalisme itu.

Pernikahan Scarlett O'Hara   tidak sesuai dengan yang diharapkan, Rhett Butler yang tidak dia idolakan, adalah tokoh zaman itu dengan fenomena mulai tak mau dikendalikan oleh moralitas, bermain pelacur dan meminang Scarlett O'Hara, bisa berjalan dan ia lakukan bersamaan tanpa rasa kikuk.

Pengejaran Scarlett O'Hara dalam asmara tidak berjalan mulus, terdapat juga stempel zaman yang sangat mendalam: Ashley Wilkes termasuk masa lampau sedangkan dia termasuk masa depan.

Ashley Wilkes adalah reserved, kaku, polos, bersikap kedunguan ala intelektual, terkekang ketat oleh etika tata susila, sedangkan Scarlett O'Hara adalah bangsawan yang ber-tipe kebebasan gender, sedikit liar, termasuk anak zaman yang patut dibanggakan oleh era baru.  

Sedangkan idaman/favorit Scarlett O'Hara   justru adalah type gentleman semacam itu yang perlahan lenyap dari lembaran sejarah, ramah, implisit dan Melanie Hamilton; istri Ashley Wilkes tidak memiliki daya tarik seperti Scarlett O'Hara, berbadan kurus tapi memiliki inner beauty, lahir maupun bathin, suami istri tersebut harmonis, pergi mengikuti zaman usang, tetapi di dalam sanubarinya tentram dan bahagia.  

Memiliki uang tidak serta merta berbahagia, putri semata wayang Scarlett O'Hara sepintar dan secantik ibunya, Rhett Butler demi generasi penerus menyesuaikan trend zaman, memiliki karakter berani, tegas dan avonturis, melatih putri berusia 7 tahun menjadi joki, sang kuda melompati gawang, secara tak terduga terjatuh dan tewas.

Karya tersebut secara samar menunjukkan karakteristik zaman baru: Sukses dan marabahaya eksis bersamaan; ketamakan dan krisis juga berkaitan. Materialisasi umat manusia dan Tsunami keuangan saling bersahutan; kedalaman nilai estetika dari "Gone With The Wind" terletak pada secara obyektif merefleksikan siklus terakhir sejarah umat manusia ini.

Mengapa AS zaman sekarang tidak lagi muncul epos yang begitu mendalam seperti "Gone With The Wind", hanya tipikal pengusaha sukses seperti Bill Gate dan berbagai film star?

Mengapa dunia dengan kemajuan peradaban materi tidak lagi ada Shakespeare, Dante dan Goethe, tidak lagi ada Bethoven dan Mozart?

Marx menjelaskannya setengah memaksa sebagai "Produksi materi dan produksi spiritual yang tidak seimbang", mengapa tidak seimbang? Teori materialismenya tidak mampu menjelaskannya.

Sebetulnya bukan "Tidak seimbang" justru sebaliknya! Nafsu keinginan manusia bisa tanpa batas, tumbuh mengikuti kejayaan materi dan dalam perkembangannya karakter manusia secara berangsur digantikan dengan karakter materi, orang-orang sering berkata "Hati nurani dimakan oleh anjing!" . Anjing yang dimaksud adalah barang dagangan, mata uang!

Di Eropa dan Amerika, orang-orang telah melupakan Plato dan mencampakkan Socrates!

Halaman sekolah AS di dalam sejarah selamanya adalah tenang dan cukup sakral, tetapi halaman sekolah AS zaman sekarang, ternyata telah terjadi bertubi-tubi kasus penembakan para siswa!

Misalnya bagi orang AS 200-300 tahun yang lampau, mutlak tak akan percaya, perbuatan brutal menembaki orang-orang tak berdosa, tak dikenal pula (oleh si algojo), dari suatu tempat di ketinggian, jikalau kasus itu didengar oleh orang AS zaman kuno, pasti dianggap hal yang mustahil. Mereka pasti tidak mengira bahwa karakter anak cucu mereka sendiri telah anjlok sedemikian rupa hingga muncul metamorfosa semacam itu!

Mengenai kekayaan materi, betul zaman sudah maju, tapi bicara mengenai moralitas, norma, etika, kemanusiaan, spiritualitas semakin menumpul dan secara berangsur lenyap!

Image "Zhang Guolao menunggang keledai secara terbalik" dari Tiongkok kuno seolah memperingatkan kepada manusia di dunia: Umat manusia selalu mengira bahwa mereka bisa menaiki keledai, naik kuda, naik mobil, naik pesawat udara dan lain-lain adalah melaju ke arah depan, sesungguhnya adalah mundur.

"Sesuatu yang berlawanan, merupakan pergerakan dari Dao." Demikian dikatakan oleh Lao Zi yang bermakna: "Pengubahan ke arah sebaliknya adalah pergerakan dan hasil akhir dari segala benda/hal, itu adalah aturan/hukum alam semesta."

Perkataan ini, dipahami sebagian oleh Hegel, ia berkata: "Bentuk dialektika adalah bulat - berubah ke arah sebaliknya" namun ia tidak menemukan bahwa sejarah umat manusia juga bergerak ke arah berlawanan.

Sedangkan pertapa Taois Zhang Guolao lebih memahaminya. Karena penyebab materialisasi umat manusia, di dalam ilmu filsafat timur klasik sejak dini sudah dianalisa dan dijelaskan di kitab Taois Yin Fu Jing:

"Langit dan bumi, penuntun semua makhluk; semua makhluk, penuntun manusia; manusia, penuntun semua makhluk; Pertukaran tiga siklus: Alam semesta, umat manusia dan segala makhluk, terdapat keteraturan; dan tiga faktor alam semesta: langit, bumi dan manusia harmonis dan teratur, saling berdampingan dengan tenteram........"

Tentang makna filosofis mendalam semacam ini yang diekspresikan dengan bahasa mandarin kuno, secara dialektis dari situasi besar alam semesta memandang hubungan antar manusia dan benda, orang barat pada umumnya sulit memahaminya.

Cendekiawan Inggris, doktor Joseph Needham peneliti teknologi kuno bangsa Tionghoa pernah mengatakan: "Tatkala orang Yunani dan orang India dengan teliti mempertimbangkan Logika Formal, Tiongkok selamanya berkecenderungan mengembangkan Logika Dialektika; ketika orang Yunani dan orang India menemukan teori atom, orang Tiongkok telah mengembangkan filsafat alam semesta organik. Cara berpikir orang Tionghoa dengan mengutamakan logika dialektika ini, jauh lebih dahulu daripada (filsuf) Jerman."

Perkatan ini, bisa dianggap sebuah kunci, membantu kita dalam memahami alam semesta dan semua makhluk (termasuk manusia) serta hubungan dialektis segala makhluk/benda dengan umat manusia sebagai berikut:

Siklus besar I :

Siklus alam semesta dengan semua makhluk, alam semesta menumbuhkan segala makhluk, juga menuntun segala makhluk dengan menjadikannya tua, untuk kemudian kembali ke alam semesta dan meyelesaikan sebuah siklus; alam semesta melahirkan lagi segala makhluk, dan membiarkan lagi semua makhluk menjadi tua dan kembali ke tanah............ demikianlah selalu mulai dari awal lagi, di bawah kondisi normal, ritme ini dengan aman dan diam-diam bersiklus terus menerus.

Siklus ke II :

Siklus umat manusia di dalam alam semesta dengan semua makhluk, manusia tak henti-hentinya mengambil (merampas) semua benda makhluk, dipergunakan untuk gizi, untuk dinikmati dan untuk berperang, hingga dikarenakan metamorfosa karakter manusia dan penggunaan sumber daya energi yang terus meningkat dan mencemari, merusak dan memusnahkan semua makhluk. Siklus semacam ini telah mencakupi faktor bersifat merusak dan tak henti-hentinya meningkat, terutama iptek tinggi memasukkan ilmu kimia, biologi, quantum fisika, persenjataan perang sampai ke keterlibatannya  dalam perang yang memusnahkan...............

Siklus ke III :

Interaksi segala makhluk dengan umat manusia, saling mempengaruhi: Metabolisme tubuh umat manusia tak henti-hentinya saling bertukaran dengan benda dari luar badannya sendiri, lebih-lebih lagi dengan merasa diri sendiri memiliki kewajiban merombak dunia dan menaklukkan alam, iptek tinggi semakin lama semakin dilibatkan merasuk ke dalam, merembes hingga ke bagian dalam jiwa segala makhluk hidup.

Engels pernah mengatakan tentang hukuman dan imbalan bagi umat manusia oleh kekuatan alam, dan ia hanya menunjukkan musibah serta bencana di luar tubuh fisik manusia, sedangkan budaya kultivasi secara lebih mendalam menulusuri perubahan karakter kemanusiaan di dalam tubuh manusia.

Segala makhluk bangga dengan menuntun manusia, boleh dikatakan segala makhluk membiarkan umat manusia dengan lancar menguasai, mengubah, penggunaan iptek dengan cerdik dan dengan skala lebih besar mengeksploitasi alam, membuat manusia semakin arogan, pelit, mengalami degradasi nilai kemanusiaan tapi proses materialisasinya bertambah terus, manusia dan benda saling mengubah masing-masing.

Robot diubah menjadi mirip manusia, komputer dipersonifikasi, juga mendorong kaum kapitalis mempersonifikasi modalnya, pakar moneter mempersonifikasi mata uangnya.  

Umat manusia telah berada di ambang pangan yang tak dapat dimakan, uang yang tak dapat mengalir (liquit), air yang tak dapat diminum, menghembuskan udara tapi kesulitan menghirup udara, jalan buntu!

Terutama di Tiongkok daratan: Nyaris tiada udara yang tidak tercemari, jarang terdapat sumber air yang tidak dirusak, bahan pangan yang tidak dipalsukan nyaris tidak ada, sudah bukan situasi kondisi yang sesuai dengan eksistensi umat manusia.

Perkataan: "Sesuatu yang berlawanan, merupakan pergerakan dari Dao." dari Lao Zi salahkah? Ini dengan "Pertukaran tiga siklus: Alam semesta, umat manusia dan segala makhluk, terdapat keteraturan." dan "Tiga faktor alam semesta: langit, bumi dan manusia harmonis dan teratur, saling berdampingan dengan tenteram."

Orang-orang saling menuang minyak ke dalam api, padahal orang-orang membutuhkan pertolongan diri sendiri! Lantas bagaimana?!

Masihkan mengikuti jalan yang dibuka oleh Rhett Butler dan membabad alas melanjutkannya maju ke arah materialisme?

Ketika situasi genting penyelamatan pasar telah berlalu, akankah manusia lebih berani lagi dalam berpetualang? Mengeruk lebih banyak lagi kekayaan? Membiarkan umat manusia bermaterialisasi dengan skala lebih besar?  Membiarkan 5 benua di dunia bukan hanya ahli keuangan, semua orang "Maju bersama waktu" menjadi pengejawantahan kapital, pengejawantahan mata uang? Untuk peragian tsunami yang baru dan yang lebih besar?

Segalanya itu biarkan para politisi, filsuf, ekonom, sosiolog memeras otak.

"Gunung dan sungai besar menghadang - seolah jalan sudah buntu"

Apabila menurut logika dialektika orang Tiongkok, justru sisi sebaliknya perlu diperhatikan, arah kebalikan dari benda --- "Rohani yang sudah terbuang oleh umat manusia. Rohani yang lurus murni yang sejati murni dan yang bersih murni." Peradaban moralitas yang mampu memberikan inspirasi yang mendalam bagi manusia zaman sekarang dan sanggup menarik balik peradaban moralitas hati manusia di dunia. "Sepatu besi hingga terkikis tak menemukan tempat yang dituju"

Justru di tanah AS sendiri, telah terkumpul sejumlah orang Tionghoa dari seluruh dunia yang tanpa rasa ego melakukan perbuatan penyelamatan rohani umat manusia: Kompetisi akbar perancangan kembalinya busana Han seluruh dunia.

Dimulai dengan tahun ini, serangkaian kompetisi akbar kebudayaan Tionghoa seluruh dunia diadakan. Nampaknya, ini hanyalah sekedar berkaitan dengan busana suku Han (Suku mayoritas di daratan Tiongkok), juga: ilmu silat Wushu, Tarian tradisional, Tetabuhan, Seni Memasak, sesungguhnya semuanya membuka pintu kebudayaan Tionghoa yang berharga.

Semuanya mengandung makna teramat dalam tentang kerohanian Tionghoa; adalah pengembalian kerohanian umat manusia; penggemar dunia persilatan orang Tionghoa, dunia kesenian dan dunia kuliner, menyupport dengan tulus para pakar berbagai ketrampilan yang menyayangkan semakin terbenamnya peradaban Tionghoa, diharap semakin menimbulkan perhatian lebih banyak orang lagi.

Dalam media barat dan Tiongkok, orang yang menilai penting mengenai penyelamatan umat manusia dari krisis spiritualitas tidaklah banyak, sementara ini masih menunggu atensi dari orang yang mau peduli, demi masa saat ini dan masa depan umat manusia.

(Selesai)

Ini hanya mewakili penuturan dan konsepsi si penulis.

(Whs)