Tuesday, November 4, 2008

Setelah Para Leluhur Berbisik


Sultan Hamengku Buwono X siap menjadi presiden. Merasa didukung rakyat dan mendapat restu nenek moyang.
LAUTAN manusia terhampar di Alun-alun Utara Yogyakarta, Selasa sore pekan lalu. Kerumunan orang tumplek blek hingga Jalan Malioboro dan mengular terus hingga Wirobrajan, Gampingan, Taman Hiburan Rakyat, Terminal Ngabean, dan Bintaran—sekitar dua kilometer dari pusat keramaian.

Yang mereka hadiri adalah Pisowanan Agung—upacara rakyat Mataram menghadap rajanya. Ketika Sultan Hamengku Buwono X naik panggung di halaman depan Keraton Yogyakarta Hadiningrat, tempik-sorak hadirin membahana.

Herdjuna Darpito, nama lahir Sultan, hari itu mengenakan batik kelir kehijauan dan celana hitam. Ia didampingi istrinya, Ratu Hemas, dan empat putrinya. Dengan dua telapak tangan mengatup, Sultan menjura. Ribuan orang mengelu-elukannya. Lagu Gending Keraton Yogya dari mulut penyanyi Franky Sahilatua terdengar mengiringi.

Lalu 20 orang maju, berdiri persis di depan Sultan. Seorang dari mereka, Muhammad Daud, menjadi juru bicara. Mengatasnamakan rakyat Yogyakarta, Daud meminta Sultan mau menjadi calon presiden. ”Kami merelakan Ngarso Dalem membangun bangsa. Rakyat berharap Ngarso Dalem kerso lenggah (sudi duduk) sebagai presiden,” katanya bersemangat. Tepuk tangan pun kembali membelah langit. Ngarso Dalem adalah panggilan takzim untuk Raja Jawa.

Sultan lalu melambai-lambaikan tangan penuh percaya diri. Massa terus mengelu-elukannya. ”Hidup Sultan. Sultan for Indonesia!” Pria 62 tahun itu lalu berujar, ”Dengan memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Esa dan dengan niat yang tulus memenuhi panggilan Ibu Pertiwi, saya menyatakan siap maju menjadi presiden.”

Setelah itu, Sultan mengangkat tangan tinggi-tinggi, lalu menautkan dua jari telunjuknya. Ini simbol persatuan rakyat dan pemimpin, manunggaling kawula-gusti. Ia lalu berorasi. ”Apa bisa tahan dengan keadaan sekarang? Mulai saat ini, mari bersatu.” Frasa ”apa bisa tahan” kini menjadi slogan Sultan mencari dukungan.

l l l

KESEDIAAN Sultan dicalonkan menjadi presiden melegakan pendukungnya. Soalnya, hingga tiga hari sebelum Pisowanan Agung, sahabat Sultan yang bersemangat menjagokannya—penyanyi Franky Sahilatua, pengamat politik Sukardi Rinakit, dan bekas pengurus Partai Kebangkitan Bangsa, Muslim Abdurrahman—belum mendapat kepastian.

Malam itu, saat gerimis turun, tiga serangkai tersebut kongko-kongko di restoran Hotel Quality di Jalan Solo, Yogyakarta, sembari menyantap makanan Cina. Sambil mengunyah, Muslim berujar, ”Piye iki, rakyat sudah mendukung penuh, suara tak terbendung, Ngarso Dalem kok belum berani juga.” Franky mengisap rokok dalam-dalam. Sukardi berusaha tenang.

Sumber Tempo menyebutkan keputusan Sultan mengumumkan kesediaan menjadi calon presiden pada Selasa pagi 28 Oktober itu—persis pada hari jadi ke-80 Sumpah Pemuda—bukan tanpa alasan. Bagi Raja Jawa, kata sumber itu, membuat keputusan penting, apalagi yang berkaitan dengan negara dan kekuasaan, bukan perkara gampang. Karena itu, selalu dibutuhkan hitung-hitungan mistik dan ilmu kebatinan.

Selasa pekan lalu itu, misalnya, jatuh pada hari pasaran Wage berdasarkan penanggalan Jawa—weton yang sama dengan hari kelahiran Sultan. Raja Jawa itu punya tradisi wiridan, menyebut nama Tuhan berulang-ulang, dan salat tahajud pada malam menjelang wetonnya datang. Kebiasaan itu pun Sultan lakukan Senin Pon malam pekan lalu. Ia maneges, memohon petunjuk Tuhan, untuk mencari jawaban yang harus ia sampaikan kepada pendukung. Sultan menjalani laku ini di kamar pribadinya. ”Saat itulah bisikan gaib itu datang,” kata sumber tersebut.

Pada pagi menjelang Pisowanan Agung, Sultan dikabarkan menyampaikan kesediaan menjadi presiden kepada kalangan terbatas, orang dalam keraton, termasuk sejumlah sahabat. Setelah itu, ia menuangkan ketetapan hatinya ini melalui amanat yang ditulis dalam secarik kertas berlogo keraton. Kertas itulah yang dibacakannya pada puncak Pisowanan Agung.

Sebelum itu, kata sumber orang dalam keraton, Sultan sudah pula ”didatangi” leluhurnya, para Raja Jawa yang sudah meninggal. Seorang kerabat keraton yang tak mau disebut namanya mengatakan Sultan makin berani maju setelah ada kata oke dari arwah-arwah masa lalu itu. ”Leluhur saya telah merestui apa yang akan saya lakukan,” kata sumber itu menirukan Sultan.

Setelah itu, untuk memastikan dukungan, Sultan berkunjung ke sejumlah daerah, di antaranya Palembang dan Gorontalo. Di sini, ia merasa sokongan makin kuat. Apalagi istri dan anak-anaknya juga mendukung. ”Saya ingin mengabdi, bukan mencari kekuasaan,” kata Sultan.

Satu hal yang membuat Sultan percaya diri adalah hasil survei yang menunjukkan popularitasnya terus menanjak—meski belakangan sempat ambrol. Menurut Lembaga Survei Indonesia, Juni 2007 lalu popularitas Sultan baru 1,4 persen. Tapi setahun kemudian angka itu melonjak menjadi 17,6 persen. Sayang, September lalu Sultan anjlok di angka 4 persen. Posisinya jauh tertinggal dibanding Yudhoyono (32 persen) dan Megawati (24 persen).

Berkaca pada Yudhoyono menjelang Pemilu 2004, Sultan memang belum apa-apa. Sembilan bulan menjelang Pemilu 2004, jarak popularitas Yudhoyono sebagai penantang dengan Megawati sang incumbent paling banyak hanya delapan persen. Adapun Mega sendiri tak pernah mencapai popularitas 20 persen. Artinya, Sultan perlu kerja sangat keras untuk bisa mengejar Yudhoyono dan Megawati pada pemilu presiden tahun depan. Apalagi ada Wiranto dan Prabowo, yang pelan-pelan juga mulai punya pendukung.

Pesimisme itulah yang disampaikan Raja Keraton Surakarta Hadiningrat Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Tedjowulan. Sehari sebelum Pisowanan Agung, ia bahkan tak yakin Sultan berani secara terbuka mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. Menurut Tedjowulan, wilayah Nusantara yang luas ini membutuhkan pemimpin yang memiliki harta, daya, dan wasis. ”Harta berarti duit, daya artinya kemampuan, dan wasis punya kemampuan lebih,” ujarnya. Saat ini Tedjowulan adalah anggota Dewan Penasihat Partai Gerindra, yang menyokong Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

Apakah Sultan memiliki ketiganya? Tedjo tak yakin. ”Kalau ya kan beliau mendirikan partai dari dulu-dulu,” katanya. Perjalanan Sultan, kata Tedjowulan, masih panjang. ”Kendaraan apa yang dipakai kalau mau mencalonkan diri?”

Tak ada yang bisa menjawab. Sejauh ini yang ada adalah skenario-skenario. Misalnya rencana menggandengkan Sultan dengan Megawati atau Sultan dengan Prabowo. Tim inti Sultan, ya Sukardi Rinakit dan kawan-kawan itu, telah pula menjalin lobi ke sana-kemari untuk mendongkrak popularitas Sultan. Soal keraguan Tedjowulan, Sukardi menanggapinya dingin. Katanya, Sultan itu ibarat gerbong perubahan. ”Jika tidak ikut, akan ketinggalan.”

Sunudyantoro (Jakarta), Bernarda Rurit, L.N. Idayani (Yogyakarta)

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/11/03/NAS/mbm.20081103.NAS128644.id.html