Wednesday, November 5, 2008

Sebelas Kawan Yang Gagal Melawan



Renovasi Makam Amir Sjarifoeddin
Sebelas Kawan Yang Gagal Melawan
Muchus Budi R. - detikNews

Sebelas orang yang dimakamkan --atau lebih tepatnya dieksekusi mati-- di makam desa Ngaliyan, Karanganyar adalah para tokoh PKI pasca pemberontakan Madiun tahun 1948. Mereka adalah para intelektual Indonesia saat itu. Bahkan Amir Syarifoeddin pernah menjadi PM dan pimpinan delegasi perundingan Indonesia - Belanda.

Setelah gagal mendirikan negara baru berhaluan komunis yang ditandai dengan aksi sepihak di Madiun dan sekitarnya, Muso dan kawan-kawannya lalu bersembunyi di hutan Dungus. Termasuk dalam rombongan itu adalah Amir Sjarifoeddin.

Akhir Oktober 1948, Muso tertembak mati dalam sebuah penyergapan oleh tentara republik. Para tokoh PKI lainnya lalu menyebar mencari persembunyian. Kawasan Purwodadi, Jawa Tengah, menjadi pilihan mereka.

Tapi persumbunyian itupun akhirnya sia-sia. Antara November dan Desember 1948, mereka berhasil dicokok. Amir ditangkap di daerah Klambu, 20 km dari pusat Kota Purwodadi. Mereka lalu dibawa ke Jogjakarta dan selanjutnya 'disimpan' di penjara Surakarta. Dari Purwoadi Amir diangkut dengan kereta api.

Adegan menarik tercatat dalam peristiwa ini. Sepanjang perjalanan dari Purwodadi, di kanan-kiri jalan kereta banyak warga berdesak ingin menyaksikan wajah Amir. Hanya sesekali Amir melihat mereka. Selebihnya asyik membaca cerita roman 'Romeo and Juliet' yang dipimjamkan seorang tentara, untuk menghilangkan kesuntukan dalam perjalanan kereta.

Amir memang tokoh kontroversial. Di masa awal negara terbentuk, dia termasuk salah satu tokoh intelektual Indonesia. Karenanya beberapa kali Soekarno mempercayainya memegang berbagai jabatan kementrian.

Jika Anda melihat sebuah foto pembentukan kabinet pertama setelah kemerdekaan, Anda akan melihat seorang muda mengenakan celana pendek ala pelajar Eropah saat itu. Orang dalam foto itulah Amir Sjarifoeddin yang memang baru saja pulang belajar dari Eropa.

Kepercayaan Soekarno kepadanya terus berlanjut. Bahkan dia pernah menjabat sebagai Perdana Menteri. Sejarah juga mencatat bahwa Amir adalah pimpinan delegasi perundingan di atas kapal USS Renville antara Indonesia dengan Belanda pada 17 Februari 1947. Perundingan ini selanjutnya juga terkenal dengan nama Perundingan Renville.

Perundingan ini oleh sebagian pihak dianggap merugikan posisi Indonesia. Karena banyaknya kecaman, Amir lalu memilih menyingkir. Selanjutnya dia bergabung bersama kawan-kawan yang sehaluan ideologi dengannya untuk merencanakan pendirian negara berhaluan komunis di Indonesia.

Setelah ditangkap dan dipenjarakan di Solo, nasib Amir dan kesepuluh kawannya menjadi terkatung karena kabinet saat itu tidak ada kata bulat apakah dia harus dihukum mati atau kembali dilepas. Namun sebuah kepastian datang pada sebuah malam tanggal 19 Desember 1948.

Sebelas orang itu dibawa menggunakan truk ke sebuah tempat terpencil di Karanganyar. Mereka dihabisi di tempat tersebut. Beberapa tahun kemudian PKI menggugat eksekusi mati para seniornya tersebut karena eksekusi itu tanpa melewati proses pengadilan.

Dalam pembelaan di Pengadilan Negeri Jakarta tanggal 24 Februari 1955, DN Aidit memaparkan peristiwa penembakan ini sebagai berikut:

"Pada waktu itu kawan Amir Sjarifoeddin berpakaian piyama putih strip biru, celana hijau panjang, dan membawa buntelan sarung; kawan Maroeto Daroesman berpakaian jas coklat dan celana putih panjang; kawan Suripno berbaju kaos dan bersarung; kawan Oey Gee Hwat bercelana putih, kemeja putih dan jas putih yang sudah kotor; kawan lainnya adalah Sardjono, Harjono, Sukarno, Djokosujono, Katamhadi, Ronomarsono dan D Mangku.

Sambil menunggu lubang selesai digali, Kawan Amir Sjarifoeddin menanyakan kepada seorang kapten TNI yang ada disitu: Saya mau diapakan?

Jawab kapten itu: Saya tentara, tunduk perintah, disipilin.

Setelah selesai lubang digali, orang-orang yang menggali disuruh pergi dan yang disuruh tinggal hanya 4 ora
ng yang kemudian ternyata digunakan untuk menguruk lubang itu kembali.
Kemudian seorang letnan menerangkan adanya surat perintah Gubernur Militer Surakarta, Kolonel Gatot Subroto mengenai pembunuhan atas 11 orang itu.

Bung Amir menanykan antara lain: Apakah saudara sudah mengikhlaskan saya dan kawan-kawan-kawan saya?

Letnan itu menjawab: Saya tinggal tunduk perintah.

Kawan Amir bicara lagi: Apakah saudara sudah memikirkan yang lebih jernih?

Letnan: Tidak usah banyak bicara.

Kawan Djokosujono menyisip: Saya tidak menyalahkan saudara, tetapi dengan ini negara rugi.

Letnan memerintah anak buahnya supaya masing-masing mengisi bedilnya.

Kawan Amir menghampiri si Letnan, sebelum sampai ia terpeleset sedikit, sambil menepuk badan Letnan ia berkata: Beri kami waktu untuk bernyanyi sebentar.

Letnan menjawab: Boleh, tapi cepat-cepat !

Kawan Suripno menyisip: Apa saya boleh mengirimkan surat untuk isteri saya, biar ia tahu.

Letnan: Ya tidak keberatan.

Kemudian kawan-ka
wan menulis surat. Sesudah selesai, surat-surat itu satu persatu diserahkan kepada Letnan.

Sesudah surat diserahkan, bersama-sama 11 orang menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Internasionale.

Setelah selesai bernyanyi bung Amir menyerukan: Bersatulah kaum buruh seluruh dunia! Aku mati untukmu!

Kawan Suripno: Saya bela dengan jiwa saya, aku untukmu!

Kemudian mulailah kesebelas orang yang gagah berani itu ditembak satu persatu, dimulai dengan menembak kawan Amir Sjarifoeddin, kemudian kawan Maroeto Daroesman, Oey Gee Hwat, Djokosujono, d
an seterusnya...".(mbr/djo)

Sumber http://www.detiknews.com/read/2008/11/05/164513/1031820/10/sebelas-kawan-yang-gagal-melawan

Rabu, 05/11/2008 16:07 WIB
Renovasi Makam Amir Sjarifoeddin Dibangun Setelah Anaknya Sakit-sakitan
Muchus Budi R. - detikNews

Makam Amir Sjarifoeddin telah dibangun lagi oleh keluarga. Rakidi, salah seorang warga Ngaliyan, mengatakan pembangunan kembali makam itu sepenuhnya atas inisiatif keluarga Amir setelah mendapat petunjuk agar kembali memperbaiki makam tersebut.

"Saya tidak tahu persisnya alasan pembangunan kembali makam Pak Amir. Tapi yang jelas beberapa bulan lalu, ada salah seorang keluarganya dari Medan datang kemari. Saya lupa namanya, tapi saat itu dia menemui saya dan mengatakan akan membangun makam Pak Amir," papar Rakidi kepada detikcom, Rabu (5/11/2008).

Kepada Rakidi, keluarga Amir itu mengatakan bahwa anak bungsu Amir Sjarifoeddin saat ini sedang sakit-sakitan. Atas petunjuk seorang paranormal, si bungsu diminta untuk memugar kembali dan merawat makam ayahnya.

Rakidi kemudian mengajak keluarga Amir itu menemui RT setempat. Selanjutnya disepakati seluruh biaya pembangunan makam ditanggung oleh keluarga. Biaya ditransfer via bank. Sedangkan yang mengerjakan adalah warga setempat.

Berapa biaya yang diberikan keluarga, Rakidi mengaku tidak tahu. Transfer dilakukan keluarga ke rekening Ketua RT. Saat detikcom berupaya menemui ketua RT setempat, yang bersangkutan sedang tidak berada di rumah.

"Tapi sepertinya dana yang diberikan juga tidak banyak. Yang jelas pembangunan kembali makam ini kami lakukan dengan beberapa warga saja selama empat hari. Masing-masing dibayar Rp 30 ribu per harinya," kata Rakidi.

Masih menurut Rakidi, pada tanggal 15 Nopember mendatang keluarga Amir dari Medan dan Jakarta akan datang ke Ngaliyan. Kedatangan itu selain untuk berziarah juga untuk menyampaikan ucapan terimakasih atas bantuan warga dalam pembangunan kembali makam Amir.

"Kami dengar tanggal 15 Nopember nanti ada keluarga yang akan datang kemari. Jam berapa tepatnya nanti, saya juga tidak tahu. Mungkin Pak RT lebih tahu, tapi saat ini beliau sedang bepergian," ujar Rakidi.(mbr/djo)

Rabu, 05/11/2008 15:40 WIB
Keluarga Telah Bangun Kembali Makam Amir Sjarifoeddin
Muchus Budi R. - detikNews

Solo - Jika berkesempatan menyaksikan makam mantan Perdana Menteri Mr Amir Sjarifoeddin di Karanganyar, Jawa Tengah, Anda akan mendapatkan pemandangan yang berbeda. Makam tersebut telah dibangun oleh keluarga. Kini makam tokoh komunis di Indonesia tersebut tak lagi berupa gundukan tanah tak terurus.

Tak banyak yang tahu bahwa di kampung Ngaliyan, Kalurahan Lalung, Kecamatan Kota Karanganyar, terdapat makam para tokoh dan intelektual pada jamannya, salah satunya adalah Amir Sjarifoeddin. Sebelas petinggi PKI dieksekusi di sebuah makam desa yang saat itu cukup terpencil dan jauh dari keramaian. Lokasi tersebut hanya sekitar 1 Km dari waduk Lalung.

Semenjak Orde Baru berkuasa makam sebelas tokoh tersebut benar-benar terbengkalai di tengah pemakaman umum kampung setempat. Nisan dan bangunan rumah cungkup yang semula berdiri kokoh menaungi makam mereka ambruk dirusak orang. Upaya warga setempat untuk membangunnya kembali juga dilarang oleh Pemerintah saat itu.

Namun pada bulan Agustus lalu, keluarga Amir berinisiatif untuk kembali membangunnya. Kini, meskipun sangat sederhana, di atas makam Amir telah diberi nisan keramik sederhana lengkap dengan nama. Sedangkan untuk makam sepuluh orang lainnya yang berjejer di sebelah makam Amir hanya dibuat dari semen.

"Makam Pak Amir telah dibangun kembali oleh keluarganya pada bulan Ruwah lalu. Pekerjanya orang-orang desa sini, termasuk saya juga ikut bekerja membangunnya. Tapi seluruh biaya pembangunan ditanggung keluarga," ujar Rakidi, salah seorang warga Ngaliyan saat ditemui detikcom di rumahnya yang tak jauh dari makam, Rabu (5/11/2008).

Bulan Ruwah atau Sya'ban bertepatan dengan bulan Agustus lalu. Dari pengamatan detikcom, memang nisan dan semen di atas pusara itu masih terlihat baru. Belum terlihat lusuh karena terpaan panas dan hujan.

Nisan untuk Amir terlihat sederhana. Bahkan 'lebih mewah' nisan yang dibangun warga untuk keluarganya yang mengitari makam Amir. Nisan Amir terbuat dari keramik berwarna merah kualitas sedang. Di Nisan diberi tulisan nama, tempat dan tanggal lahir serta tempat dan tanggal wafat sang mantan PM.

"Semua bangunan kami selesaikan selama empat hari. Kalau tulisan nama itu dibuat oleh keluarga Pak Amir dari Medan. Tulisan itu dikirim kemari lalu kami yang memasangnya. Hanya makam Pak Amir yang diminta diberi nisan keramik, yang lainnya hanya diberi nisan dari semen saja," ujar Rakidi.(mbr/djo)

Rabu, 05/11/2008 17:10 WIB
Renovasi Makam Amir Sjarifoeddin Setahu Warga Untuk Menimbun Minyak
Muchus Budi R. - detikNews

Solo - 19 Desemeber 1948 petang, ketua RT di desa Ngaliyan memerintahkan kepada sejumlah warga setempat agar membawa alat penggali tanah ke makam desa setempat. Pak RT mengatakan ada perintah atasan agar membuat galian untuk menimbun minyak tanah.

Saat itu minyak tanah sangat langka, apalagi jika saat itu sedang terjadi agresi militer I oleh Belanda. Jika gudang penyimpan minyak dibakar atau dikuasai Belanda maka cadangan minyak untuk rakyat akan semakin langka. Karena itulah setelah mendengar perintah itu, warga berduyun-duyun menuju kuburan untuk melaksanakan perintah Pak RT.

Salah satu dari warga itu adalah Rakimin Kartopawiro, seorang pemuda desa setempat. Kini Rakimin sudah wafat 1,5 tahun silam. Namun sebelum dia wafat, beberapa kali detikcom berkesempatan menemuinya untuk mendengar cerita yang dia rekam dari pengamatannya sendiri seputar eksekusi mati Amir Sjarifoeddin dan kawan-kawannya.

Kepada detikcom, Rakimin pernah bercerita, petang itu dia dan warga lainnya menggali tanah kuburan yang cukup luas dalam kondisi gelap dan hanya terbantu oleh sinar bulan yang sedang purnama. Setelah galian hampir jadi, sekitar pukul 21.00 WIB datang sebuah truk mengangkut sejumlah orang.

"Kami pikir truk itu membawa minyak yang disebutkan sebelumnya. Tapi ternyata hanya berisi orang. Ada sebelas orang yang dikepung dengan pakaian ala kadarnya. Selebihnya berpakaian tentara. Kami diminta lebih cepat menggali," papar Rakimin saat itu.

Setelah galian dianggap cukup dalam, warga diminta segera pulang. Hanya empat orang yang diminta tetap tinggal tapi juga harus tetap menjauh dari luar area pemakaman. Salah satunya adalah Rakimin, yang kebetulan rumahnya tak jauh dari makam tersebut.

Dari kejauhan dia samar-samar melihat orang-orang tersebut bercakap-cakap. Lalu sebelas orang diminta bediri di bibir lobang membelakangi lobang. Tak lama kemudian terdengar nyanyian.

"Yang saya ingat salah salah satunya lagu Indonesia Raya, satunya lagi saya tidak tahu lagu apa yang jelas bukan menggunakan bahasa Jawa atau Indonesia. Lalu kami mendengar ada yang berteriak. Tak lama kemudian terdengar suara letusan tembakan," lanjutnya.

Empat orang warga, termasuk Rakimin, diminta mendekat. Rakimin melihat sebelas orang itu telah mati di dalam lobang galian. Selanjutnya dia dan teman-temannya diperintah untuk menutup kembali galian itu dengan tanah galian semula.

Paparan Rakimin kepada detikcom itu disampaikan sekitar bulan Juli 2006, ketika itu dia masih sehat dan segar ingatannya. Tentang kebenaran cerita itu juga dikuatkan oleh Rakidi, anak Rakimin.

"Cerita yang saya dapat dari almarhum Bapak yang seperti yang Mas (detikcom -red) dapatkan dari Bapak. Seperti itulah yang dia ceritakan kepada kami," ujar Rakidi yang saat ini menempati rumah almarhum ayahnya di Ngaliyan, tak jauh daro makam umum desa yang menyimpan jenazah Amir Sjarifoeddin.
(mbr/djo)

Rabu, 05/11/2008 17:32 WIB
Renovasi Makam Amir Sjarifoeddin Makam Megah Itu Dirusak Orang Tak Dikenal
Muchus Budi R. - detikNews

Solo - Makam Amir Sjarifoeddin dan sepuluh tokoh PKI lainnya di Ngaliyan, Karanganyar, pernah dibangun cukup megah dan selalu menjadi tempat perziarahan. Namun makam itu lalu dirusak orang tak dikenal pasca peristiwa G30S.

Pada tahun 1950, Djaenah, istri Amir Sjarifoeddin, pernah bertemu Bung Karno. Dalam pertemuan itu, Djaenah memohon agar bisa memindahkan makam suaminya ke Jakarta. Permintaan itu ditolak. Namun Bung Karno mengizinkan mayat Amir dan sepuluh kawanmya itu dikubur ulang.

Selanjutnya pada tahun 1953 makam kesebelas tokoh PKI itu dibongkar kembali. Tulang-belulangnya dikumpulkan dan diindentifikasi oleh tim dokter. Selanjutnya dikubur kembali di tempat yang sama dengan lebih layak. Hal tersebut dilakukan karena permintaan keluarga agar jenazah mereka dipindahkan ke tempat lain, ditolak Pemerintah saat itu.

Tulang Amir Sjarifoeddin dikubur paling barat atau paling, di sebelah kirinya berjajar sepuluh temannya. Mulai saat itu makam tersebut selalu ramai dikunjungi oleh keluarga dan simpatisan PKI. Hal tersebut bertahan hingga tahun 1965.

"Saat itu saya masih kecil. Tapi karena rumah saya dekat dekat dengan makam, hanya juga sering melihat orang-orang yang ramai berziarah terutama di hari Minggu. Saya juga sering bermain-main di bangunan makam tersebut karena tempatnya cukup enak," papar Rakidi, warga setempat.

Rakidi masih ingat bangunan rumah atau cungkup makam kesebelas tokoh itu cukup megah saat itu. Lantainya terbuat dari tembok yang disemen, sedangkan bangunannya terbuat dari kayu pilihan dan beratap genteng. Padahal saat itu rumah-rumah warga masih beralas tanah dan berdinding bambu.

Karena bangunannya yang megah dan kokoh, tidak hanya Rakidi dan teman seusianya yang memanfaatkan bangunan itu. Warga setempat juga sering menggunakan untuk berteduh atau sekedar istirahat jika sedang ada keperluan ke makam. Selain itu tentunya warga juga sering kecipratan sedikit rezeki dari peziarah.

Rakidi juga ingat ada sebelas nisan di dalam cungkup besar tersebut. Nisannya terbuat dari batu yang cukup mahal. Di masing-masing nisan tedapat nama-nama yang dikubur di dalamnya.

Namun setelah peristiwa G30S, pamor makam itu kembali pudar. Apalagi tak lama setelah itu ada beberapa orang tak dikenal yang datang ke makam tersebut. Nisannya dihancurkan, bangunannya dirusak hingga menjadi condong. Selama beberapa tahun bangunan itu masih bertahan dalam kondisi rusak. Sedangkan peziarah tidak lagio ada yang datang.

"Dulu waktu masih Orde Baru, warga setempat pernah berinisiatif merehab lagi cungkup-nya. Alasannya warga biar bisa kembali dimanfaatkan untuk berteduh kalau sedang ada acara ritual kampung di makam atau kalau sedang memakamkan warga yang meninggal. Tapi niatan itu batal karena dilarang oleh Pemerintah," ujar Rakidi.

Karenanya seiring perjalanan waktu, makam Amir dan sepuluh kewannya itu menjadi terbengkalai. Bangunannya ambruk dan akhirnya lapuk. Sisa-sisa dasar bangunan juga berantakan. Di atasnya tumbuh rumput liar yang tetap dibiarkan tumbuh karena warga takut Pemerintah mempermasalahkan jika merawatnya.(mbr/djo)

Rabu, 05/11/2008 17:10 WIB
Renovasi Makam Amir Sjarifoeddin Setahu Warga Untuk Menimbun Minyak
Muchus Budi R. - detikNews

Solo - 19 Desemeber 1948 petang, ketua RT di desa Ngaliyan memerintahkan kepada sejumlah warga setempat agar membawa alat penggali tanah ke makam desa setempat. Pak RT mengatakan ada perintah atasan agar membuat galian untuk menimbun minyak tanah.

Saat itu minyak tanah sangat langka, apalagi jika saat itu sedang terjadi agresi militer I oleh Belanda. Jika gudang penyimpan minyak dibakar atau dikuasai Belanda maka cadangan minyak untuk rakyat akan semakin langka. Karena itulah setelah mendengar perintah itu, warga berduyun-duyun menuju kuburan untuk melaksanakan perintah Pak RT.

Salah satu dari warga itu adalah Rakimin Kartopawiro, seorang pemuda desa setempat. Kini Rakimin sudah wafat 1,5 tahun silam. Namun sebelum dia wafat, beberapa kali detikcom berkesempatan menemuinya untuk mendengar cerita yang dia rekam dari pengamatannya sendiri seputar eksekusi mati Amir Sjarifoeddin dan kawan-kawannya.

Kepada detikcom, Rakimin pernah bercerita, petang itu dia dan warga lainnya menggali tanah kuburan yang cukup luas dalam kondisi gelap dan hanya terbantu oleh sinar bulan yang sedang purnama. Setelah galian hampir jadi, sekitar pukul 21.00 WIB datang sebuah truk mengangkut sejumlah orang.

"Kami pikir truk itu membawa minyak yang disebutkan sebelumnya. Tapi ternyata hanya berisi orang. Ada sebelas orang yang dikepung dengan pakaian ala kadarnya. Selebihnya berpakaian tentara. Kami diminta lebih cepat menggali," papar Rakimin saat itu.

Setelah galian dianggap cukup dalam, warga diminta segera pulang. Hanya empat orang yang diminta tetap tinggal tapi juga harus tetap menjauh dari luar area pemakaman. Salah satunya adalah Rakimin, yang kebetulan rumahnya tak jauh dari makam tersebut.

Dari kejauhan dia samar-samar melihat orang-orang tersebut bercakap-cakap. Lalu sebelas orang diminta bediri di bibir lobang membelakangi lobang. Tak lama kemudian terdengar nyanyian.

"Yang saya ingat salah salah satunya lagu Indonesia Raya, satunya lagi saya tidak tahu lagu apa yang jelas bukan menggunakan bahasa Jawa atau Indonesia. Lalu kami mendengar ada yang berteriak. Tak lama kemudian terdengar suara letusan tembakan," lanjutnya.

Empat orang warga, termasuk Rakimin, diminta mendekat. Rakimin melihat sebelas orang itu telah mati di dalam lobang galian. Selanjutnya dia dan teman-temannya diperintah untuk menutup kembali galian itu dengan tanah galian semula.

Paparan Rakimin kepada detikcom itu disampaikan sekitar bulan Juli 2006, ketika itu dia masih sehat dan segar ingatannya. Tentang kebenaran cerita itu juga dikuatkan oleh Rakidi, anak Rakimin.

"Cerita yang saya dapat dari almarhum Bapak yang seperti yang Mas (detikcom -red) dapatkan dari Bapak. Seperti itulah yang dia ceritakan kepada kami," ujar Rakidi yang saat ini menempati rumah almarhum ayahnya di Ngaliyan, tak jauh daro makam umum desa yang menyimpan jenazah Amir Sjarifoeddin.
(mbr/djo)

Rabu, 05/11/2008 18:14 WIB
Pemkab: Tidak Ada Perhatian Khusus Untuk Makam Amir Cs
Muchus Budi R. - detikNews

Solo - Meskipun Amir Sjarifoeddin adalah tokoh nasional yang juga mantan perdana mentri RI, namun selama ini Pemkab Karanganyar tidak memberikan perhatian khusus terhadap makam tersebut.

"Sejauh ini tidak ada perhatian atau perlakukan khusus untuk makam Pak Amir Sjarifoeddin di Ngaliyan. Kalau makam pahlawan memang ada perhatian yang diberikan Pemkab. Sejauh ini kita belum tahu apakah Pak Amir sudah mendapat gelar itu," ujar staff Kesbanglinmas Kabupaten Karanganyar, Ajipratama Heru K, Rabu (5/11/2008).

Heru juga mengaku tidak mengetahui apakah selama ini makam tersebut dirawat oleh keluarga atau tidak. Namun dia memastikan hingga saat ini tidak ada surat atau pemberitahuan apapun dari keluarga kesebelas tokoh tersebut kepada Pemkab.

Namun Heru mengatakan jika memang keluarga ingin memugar atau menata kembali makam Amir dan kawan-kawan, Pemkab tidak akan menghalangi.

"Hak keluarga untuk memperbaiki makam leluhurnya. Kami kira tidak ada masalah asalkan pembangunan itu tidak melanggar aturan atau Perda yang ada," ujarnya.(mbr/djo)