Tuesday, November 4, 2008

Rupiah... Oh, Rupiah

Gerak cepat pemerintah mengatasi krisis mesti dibarengi usaha meningkatkan kepercayaan publik. Dua hal itulah yang dipercaya bisa menjadi kunci, sekaligus energi, untuk meredam akibat krisis finansial yang kini melabrak dunia. Langkah sigap perlu segera diambil, mengingat krisis mulai masuk ke zona berbahaya bagi Indonesia. Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika bisa memicu krisis lebih parah.

Kita pantas cemas menyaksikan rupiah meluncur ke titik terendah selama sepuluh tahun terakhir. Angka psikologis Rp 10 ribu per dolar ditembus, bahkan rupiah sempat terperosok di angka Rp 11 ribu per dolar—sekitar 15 persen lebih lemah dibandingkan posisi awal tahun ini. Memang ada sedikit alasan yang ”menghibur”. Bukan cuma rupiah yang letoi, mata uang lain juga remuk. Won Korea sudah jatuh lebih dari 50 persen. Dolar Australia, rupee India, dan peso Filipina anjlok 20 persen. Euro rontok belasan persen terhadap dolar.

Mencari cara mengatasi jatuhnya rupiah merupakan upaya yang terpenting, tapi memahami penyebabnya akan sangat membantu. Amerika, yang menguasai seperempat perekonomian dunia, sedang menyedot dolarnya pulang kandang untuk menaikkan likuiditas. Ahli lain bilang para pemilik uang sedang memborong surat utang pemerintah Amerika Serikat, yang dijual untuk membiayai krisis di sana. Alhasil, surat utang yang dikeluarkan pemerintah Bush sudah US$ 250 miliar dari US$ 700 miliar yang dijanjikan. Harus diakui, ini kelebihan negara besar itu. Meski diamuk krisis, Amerika masih dipercaya para pemilik uang sebagai tempat paling aman menyimpan duit.

Dolar yang tersedot itulah yang membuat mata uang negara lain rontok. Akibatnya terhadap rupiah memang tak sehebat terhadap mata uang lain. Tapi rupiah tak boleh dibiarkan bertambah loyo. Bahayanya sudah pernah dirasakan Indonesia pada 1997-1998. Ketika itu, akibat rupiah terjun sampai Rp 15 ribu per dolar, utang luar negeri meledak, dan banyak perusahaan tak mampu membayar utang (default). Kredit macet menggila, bank-bank tergilas dengan cepat. Ongkos pemulihannya luar biasa besar, sekitar Rp 700 triliun—yang sampai sekarang masih membebani anggaran negara.

Tak ada yang menginginkan kenyataan buruk itu berulang. Utang luar negeri Indonesia sekarang memang tak sebesar dulu. Tapi pelemahan rupiah pasti menendang ke atas harga bahan baku dan produk impor. Ongkos produksi barang akan naik dan ujung-ujungnya inflasi bakal terkerek. Kalau itu benar terjadi, ekonomi Indonesia akan lunglai. Dampak yang akan segera terlihat: penganggur meledak, orang miskin membeludak.

Menjaga rupiah agar tak terus terbenam, itu penangkal yang harus diupayakan sekerasnya. Bukan berarti usaha pemerintah sekarang tidak berarti. Sepuluh kebijakan meredam gejolak dolar yang dilansir pekan lalu mulai kelihatan hasilnya. Salah satunya memang penting, mengeluarkan instruksi agar perusahaan negara menempatkan dolarnya di dalam negeri. Meningkatkan ekspor untuk menjaring lebih banyak devisa juga merupakan resep yang bagus.

Langkah antisipasi seperti itu jelas lebih dibutuhkan sekarang ketimbang Bank Indonesia kalang-kabut menggerojok dolar ke pasar untuk menahan jatuhnya rupiah. Dengan gelombang pembelian dolar begitu dahsyat, intervensi yang dilakukan Bank Indonesia tak memberikan hasil maksimal. Apalagi demam borong dolar sudah menjangkiti ibu-ibu arisan sampai pemilik uang miliaran. Histeria borong dolar ini sungguh buruk dampaknya bagi rupiah. Meskipun kabarnya sudah empat miliar dolar digelontorkan Bank Indonesia untuk menahan rupiah, kita saksikan itu belum cukup menumbuhkan otot kuat pada mata uang kita.

Artinya, perlu terapi lain: membangkitkan kepercayaan pelaku pasar dan masyarakat. Pemerintah perlu meyakinkan khalayak bahwa tim ekonominya mampu mengatasi gejolak, terutama menjaga nilai tukar rupiah. Ini bukan pekerjaan mudah. Pengalaman masa lalu menunjukkan publik lebih percaya desas-desus ketimbang pernyataan pejabat pemerintah. Kasus ambruknya Bursa Efek Indonesia belum lama ini, misalnya, diyakini sebagian didorong oleh derasnya rumor, selain faktor eksternal.

Dampak tidak adanya kepercayaan publik terjadi ketika nasabah perbankan menarik dananya besar-besaran pada 1998. Bank sentral mengucurkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia lebih dari Rp 230 triliun dan kita tahu berbagai skandal meruap dari sana.

Sekarang ini, pemerintah harus tegas menjalankan kebijakan agar pasar dan publik percaya bahwa pemerintah bisa mengatasi keadaan. Kepercayaan itu penting, misalnya untuk ”membawa pulang” miliaran dolar milik pengusaha yang sekarang diparkir di luar negeri. Bila itu terjadi, sungguh merupakan ”obat” peredam jatuhnya rupiah yang ampuh.

Satu syarat yang tak boleh lagi goyah: berbagai kebijakan mesti benar-benar jalan, jangan hanya bagus di atas kertas.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/11/03/OPI/mbm.20081103.OPI128615.id.html