Friday, November 21, 2008

Rokok, Laboratorium Reaksi Kimia Berbahaya

Sangat ironis memang bahwa manusia sangat memperhatikan keseimbangan alam akibat proses pembakaran bahan bakar oleh industri yang mengeluarkan polusi, tetapi dilain pihak orang-orang dengan sengaja mengalirkan gas produksi pembakaran rokok ke paru-paru mereka.

Kebiasaan merokok telah menjadi budaya diberbagai bangsa di belahan dunia. Mayoritas perokok diseluruh dunia ini, 47 persen adalah populasi pria sedangkan 12 persen adalah populasi wanita dengan berbagai kategori umur. Latar belakang merokok beraneka ragam, di kalangan remaja dan dewasa pria adalah faktor gengsi dan agar disebut jagoan, malahan ada salah satu pepatah menarik yang digunakan sebagai pembenar atas kebiasaan merokok yaitu `ada ayam jago diatas genteng, ngga merokok ngga ganteng`. Sedangkan kalangan orang tua, stres dan karena ketagihan adalah faktor penyebab keinginan untuk merokok.

Berbagai alasan dan faktor penyebab untuk merokok diatas biasanya kalah seandainya beradu argumen dengan pakar yang ahli tentang potensi berbahaya atas apa ditimbulkan dari kebiasaan merokok baik bagi dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan. Harus diakui banyak perokok yang mengatakan bahwa merokok itu tidak enak tetapi dari sekian banyak pamflet, selebaran, kampanye anti rokok, sampai ke bungkus rokoknya diberi peringatan akan bahaya kesehatan dari rokok, tetap tak bisa mengubris secara massal berkurangnya kebiasaan merokok dan jumlah perokok

Tulisan ini mungkin sama nasibnya dengan kumpulan aksi anti rokok yang didengungkan seperti diatas, tetapi saya mencoba membahasnya dari sudut kimia sesuai dengan literatur yang dipunyai, dengan harapan pembaca situs ini yang mayoritas dari jurusan kimia akan lebih mudah memahami ketimbang saya membahas dari sudut kesehatan, lingkungan atau industri. Sehingga mudah-mudahan setelah membaca artikel ini.setidaknya ada beberapa orang dapat berhenti merokok.

Rokok dan Reaksi Kimia (Pembakaran)

Proses pembakaran rokok tidaklah berbeda dengan proses pembakaran bahan-bahan padat lainnya. Rokok yang terbuat dari daun tembakau kering, kertas dan zat perasa, dapat dibentuk dari unsur Carbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N) dan Sulfur (S) serta unsur-unsur lain yang berjumlah kecil. Rokok secara keseluruhan dapat diformulasikan secara kimia yaitu sebagai (CvHwOtNySzSi).

Dua reaksi yang mungkin terjadi dalam proses merokok

Pertama adalah reaksi rokok dengan oksigen membentuk senyawa-senyawa seperti CO2, H2O, NOx, SOx, dan CO. Reaksi ini disebut reaksi pembakaran yang terjadi pada temperatur tinggi yaitu diatas 800oC. Reaksi ini terjadi pada bagian ujung atau permukaan rokok yang kontak dengan udara.

CvHwOtNySzSi + O2 -> CO2+ NOx+ H2O + SOx + SiO2 (abu) ((pada suhu 800oC))

reaksi pembakaran rokok

Reaksi yang kedua adalah reaksi pemecahan struktur kimia rokok menjadi senyawa kimia lainnya. Reaksi ini terjadi akibat pemanasan dan ketiadaan oksigen. Reaksi ini lebih dikenal dengan pirolisa. Pirolisa berlangsung pada temperatur yang lebih rendah dari 800oC. Sehingga rentang terjadinya pirolisa pada bagian dalam rokok berada pada area temperatur 400-800oC. Ciri khas reaksi ini adalah menghasilkan ribuan senyawa kimia yang strukturnya komplek.

CvHwOtNySzSi -> 3000-an senyawa kimia lainnya + panas produk ((pada suhu 400-800oC))
reaksi pirolisa

Walaupun reaksi pirolisa tidak dominan dalam proses merokok, tetapi banyak senyawa yang dihasilkan tergolong pada senyawa kimia yang beracun yang mempunyai kemampuan berdifusi dalam darah. Proses difusi akan berlangsung terus selagi terdapat perbedaan konsentrasi. Tidak perlu disangkal lagi bahwa titik bahaya merokok ada pada pirolisa rokok. Sebenarnya produk pirolisa ini bisa terbakar bila produk melewati temperatur yang tinggi dan cukup akan Oksigen. Hal ini tidak terjadi dalam proses merokok karena proses hirup dan gas produk pada area temperatur 400-800oC langsung mengalir kearah mulut yang bertemperatur sekitar 37oC.

Rokok dan proses penguapan uap air dan nikotin

Selain reaksi kimia, juga terjadi proses penguapan uap air dan nikotin yang berlangsung pada temperatur antara 100-400oC. Nikotin yang menguap pada daerah temperatur di atas tidak dapat kesempatan untuk melalui temperatur tinggi dan tidak melalui proses pembakaran. Terkondensasinya uap nikotin dalam gas tergantung pada temperatur, konsentrasi uap nikotin dalam gas dan geometri saluran yang dilewati gas.

Pada temperatur dibawah 100oC nikotin sudah mengkondensasi, jadi sebenarnya sebelum gas memasuki mulut, kondensasi nikotin telah terjadi. Berdasarkan keseimbangan, tidak semua nikotin dalam gas terkondensasi sebelum memasuki mulut sehingga nantinya gas yang masuk dalam paru-paru masih mengandung nikotin. Sesampai di paru-paru, nikotin akan mengalami keseimbangan baru, dan akan terjadi kondensasi lagi.

Jadi, ditinjau secara proses pembakaran, proses merokok tidak ada bedanya dengan proses pembakaran kayu di dapur, proses pembakaran minyak tanah di kompor, proses pembakakaran batubara di industri semen, proses pembakaran gas alam di industri pemanas baja dan segala proses pembakaran yang melibatkan bahan bakar dan oksigen. Sangat ironis memang bahwa manusia sangat memperhatikan keseimbangan alam akibat proses pembakaran bahan bakar oleh industri yang mengeluarkan polusi, tetapi dilain pihak orang-orang dengan sengaja mengalirkan gas produksi pembakaran rokok ke paru- paru mereka.

Jumlah kematian dan klaim perokok Menurut penelitian Organisasi Kesehatan dunia (WHO), setiap satu jam, tembakau rokok membunuh 560 orang diseluruh dunia. Kalau dihitung satu tahun terdapat 4,9 juta kematian didunia yang disebabkan oleh tembakau rokok. Kematian tersebut tidak terlepas dari 3800 zat kimia, yang sebagian besar merupakan racun dan karsinogen (zat pemicu kanker), selain itu juga asap dari rokok memiliki benzopyrene yaitu partikel-partikel karbon yang halus yang dihasilkan akibat pembakaran tidak sempurna arang, minyak, kayu atau bahan bakar lainnya yang merupakan penyebab langsung mutasi gen. Hal ini berbanding terbalik dengan sifat output rokok sendiri terhadap manusia yang bersifat abstrak serta berbeda dengan makanan dan minuman yang bersifat nyata dalam tubuh dan dapat diukur secara kuantitatif.

Selain mengklaim mendapatkan kenikmatan dari output rokok, perokok juga mengklaim bahwa rokok dapat meningkatan ketekunan bekerja, meningkatkan produktivitas dan lain-lain. Tetapi klaim ini sulit untuk dibuktikan karena adanya nilai abstrak yang terlibat dalam output merokok. Para ahli malah memperkirakan bahwa rokok tidak ada hubunganya dengan klaim-klaim di atas. Malah terjadi sebaliknya, menurunnya produktiviats seseorang karena merokok akibat terbaginya waktu bekerja dan merokok. Selain itu berdasarkan penelitian terbaru menyatakan bahwa merokok dapat menurunkan IQ. (dari pelbagai sumber)

Oleh Sinly Evan Putra
Mahasiswa Kimia FMIPA Universitas Lampung

dari: http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&ext=83

Efek Bahaya Asap Rokok Bagi Kesehatan Tubuh Manusia - Akibat Sebatang Rokok Racun, Ketagihan, Candu, Buang Uang Dan Dosa

Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang secuil itu terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang di sekitar perokok yang bukan perokok.

1. Asap rokok mengandung kurang lebih 4000 bahan kimia yang 200 diantaranya beracun dan 43 jenis lainnya dapat menyebabkan kanker bagi tubuh. Beberapa zat yang sangat berbahaya yaitu tar, nikotin, karbon monoksida, dsb.

2. Asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan pemicu kanker di udara dan 50 kali mengandung bahan pengeiritasi mata dan pernapasan. Semakin pendek rokok semakin tinggi kadar racun yang siap melayang ke udara. Suatu tempat yang dipenuhi polusi asap rokok adalah tempat yang lebih berbahaya daripada polusi di jalanan raya yang macet.

3. Seseorang yang mencoba merokok biasanya akan ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit dilepaskan dalam kondisi apapun. Seorang perokok berat akan memilih merokok daripada makan jika uang yang dimilikinya terbatas.

4. Harga rokok yang mahal akan sangat memberatkan orang yang tergolong miskin, sehingga dana kesejahteraan dan kesehatan keluarganya sering dialihkan untuk membeli rokok. Rokok dengan merk terkenal biasanya dimiliki oleh perusahaan rokok asing yang berasal dari luar negeri, sehingga uang yang dibelanjakan perokok sebagaian akan lari ke luar negeri yang mengurangi devisa negara. Pabrik rokok yang mempekerjakan banyak buruh tidak akan mampu meningkatkan taraf hidup pegawainya, sehingga apabila pabrik rokok ditutup para buruh dapat dipekerjakan di tempat usaha lain yang lebih kreatif dan mendatangkan devisa.

5. Sebagian perokok biasanya akan mengajak orang lain yang belum merokok untuk merokok agar merasakan penderitaan yang sama dengannya, yaitu terjebak dalam ketagihan asap rokok yang jahat. Sebagian perokok juga ada yang secara sengaja merokok di tempat umum agar asap rokok yang dihembuskan dapat terhirup orang lain, sehingga orang lain akan terkena penyakit kanker.

6. Kegiatan yang merusak tubuh adalah perbuatan dosa, sehingga rokok dapat dikategorikan sebagai benda atau barang haram yang harus dihindari dan dijauhi sejauh mungkin. Ulama atau ahli agama yang merokok mungkin akan memiliki persepsi yang berbeda dalam hal ini.

Kesimpulan :

Jadi dapat disimpulkan bahwa merokok merupakan kegiatan bodoh yang dilakukan manusia yang mengorbankan uang, kesehatan, kehidupan sosial, pahala, persepsi positif, dan lain sebagainya. Maka bersyukurlah anda jika belum merokok, karena anda adalah orang yang smart / pandai.

Ketika seseorang menawarkan rokok maka tolak dengan baik. Merasa kasihanlah pada mereka yang merokok. Jangan dengarkan mereka yang menganggap anda lebih rendah dari mereka jika tidak ikutan ngerokok. karena dalam hati dan pikiran mereka yang waras mereka ingin berhenti merokok.

Dari :http://organisasi.org/efek-bahaya-asap-rokok-bagi-kesehatan-tubuh-manusia-akibat-sebatang-rokok-racun-ketagihan-candu-buang-uang-dan-dosa

Balada Sebatang Racun Bernama Rokok

Oleh Gusti Nur Cahya Aryani

Jakarta (ANTARA News) - "Dulu pernah lah coba-coba sewaktu muda, tapi karena tidak suka dan sadar kalau rokok tidak baik untuk kesehatan maka saya berhenti," ujar Imam Prasodjo.

Beruntung bagi Direktur Yayasan Nurani Dunia itu yang kebetulan tidak menyukai rokok dan sadar akan bahaya rokok sehingga kegiatan "coba-coba" yang dilakukannya di masa muda tidak berlanjut menjadi kebiasaan buruk di kemudian hari.

Namun, bagaimana dengan jutaan anak-anak muda lainnya yang akhirnya tidak bisa melepaskan diri dari proses panjang "bunuh diri" yang diawali melalui kegiatan coba-coba itu?

Apalagi, mengingat data Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan mencatat bahwa pada 1990-an usia awal merokok pada anak-anak dimulai saat usia menginjak 15 tahun namun pada 2004 diperkirakan usia awal merokok pada anak-anak dimulai pada saat 7 tahun.

"Pelarangan total terhadap segala bentuk iklan rokok terbukti berhasil menurunkan angka konsumsi tembakau, setidaknya hal itu terlihat di negara-negara yang sudah menerapkan aturan hukum pelarangan iklan rokok," kata Direktur WHO untuk Inisiatif Tanpa Tembakau Douglas Bettcher.

Iklan, promosi dan sponsor rokok memang dinilai berperan penting dalam menciptakan budaya merokok pada remaja.

Berdasarkan penelitian dampak keterpajangan iklan dan sponsor rokok terhadap kognitif, afeksi dan perilaku merokok remaja yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pada 2007 tercatat 46,3 persen menunjukkan pengaruh besar untuk memulai merokok.

Semakin sering remaja dan anak-anak terpajan iklan rokok yang bernilai miliaran rupiah per tahunnya dan berorientasi mengajak generasi muda merokok, maka peluang mereka untuk mulai merokok pun meningkat.

Oleh karena itu, upaya imbauan dan pembatasan iklan rokok yang baru hanya menjangkau 5 persen populasi dunia hampir dipastikan tidak dapat bersaing dengan usaha gencar perusahaan-perusahaan tembakau untuk terus saja mempromosikan rokok sebagai komoditi yang identik dengan glamor, energi, dan ketertarikan seksual.

Kesan yang menyesatkan ini menghubungkan rokok dengan hal-hal mewah, menarik bagi lawan jenis, dan sensasi petualangan sehingga kalimat peringatan "merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin" menjadi sekedar retorika belaka.

Mungkin masih lekat di benak publik ketika sepasang anak muda "gaul" yang bercita-cita menjadi musisi kondang dalam film bergenre remaja --artinya dapat ditonton oleh anak-anak berseragam putih biru-- Realita, Cinta dan Rock`n Roll memasang dua bintang remaja --Vono G Bastian dan Herjunot Ali-- yang entah mengapa tidak henti-hentinya merokok sepanjang film.

Industri tembakau pun menghabiskan miliaran rupiah tiap tahunnya untuk memperluas jaringan pemasaran untuk bisa terus bertahan dengan berusaha menarik anak muda, di lingkungan yang hangat dan mengasyikkan seperti bioskop, internet, majalah, acara olahraga, dan konser musik.

Hampir mustahil mengharapkan mereka mau memasang foto seram akibat rokok di kotak rokoknya atau menayangkan iklan antrian penderita kanker paru-paru untuk khemoterapi di rumah sakit.

Dari coba-coba

"Sejak SD, dulu sering disuruh membeli rokok oleh ayah lalu ikut mencoba," kata Ruddy (35) seorang pegawai asuransi yang tinggal di kawasan Ciledug mengenai perkenalan pertamanya dengan rokok.

Ketika ditemui sedang berolahraga bersama keluarganya di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (8/6) pagi, Ruddy sedang merokok sambil menggendong salah seorang anaknya yang baru berusia 4 tahun.

Bapak dari tiga anak itu menikmati rokoknya, sementara itu bocah kecil dalam pelukannya tertawa-tawa memperhatikan bulatan-bulatan asap yang keluar dari bibir sang ayah.

"Ditawari oleh teman sewaktu SMP," kata Aditya (19) yang mengaku mahasiswa teknologi informasi di tempat yang sama.

Tampil bercelana kargo hijau lumut, kaos tanpa lengan warna putih, sepatu olah raga keluaran salah satu produsen ternama, sebuah pemutar musik digital yang melekat di telinganya, dan tidak ketinggalan sebungkus rokok di salah satu kantong celananya, sosok Aditya tidak jauh beda dengan remaja-remaja "gaul" seusianya. Tampak sehat dan bugar di Minggu pagi itu setelah mengaku keliling Monas dua kali.

Berbeda dengan sejumlah racun lainnya, puluhan jenis racun yang terkandung dalam satu batang rokok memang tidak bekerja secara langsung, antara lain gas karbon monoksida, nitrogen, hidrosianiada dan ammonia begitu juga dengan 43 jenis zat penyebab kanker yang dapat terhirup perokok pasif dan tentu saja aktif.

Sifat puluhan racun yang bekerja perlahan-lahan itu juga yang membuat sebagian besar --jika tidak dapat dikatakan seluruh-- perokok tidak mempedulikan bahaya rokok sekalipun mengetahuinya.

"Tahu (bahaya rokok) tapi gimana lagi, susah untuk berhenti," kata Ruddy sambil tertawa saat ditanya apakah dia mengetahui bahaya rokok.

Memang diperlukan lebih dari sekedar pengetahuan akan bahaya rokok untuk membuat seseorang berhenti merokok.

Oleh karena itu Ibu Negara Ani Yudhoyono dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Istana Negara akhir Mei lalu mengimbau seluruh pihak untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok bagi anak-anak apalagi anak-anak ada kecenderungan untuk meniru perilaku orang tuanya.

"Anak-anak juga harus berani menolak rokok, biarlah dikatakan jadul (kuno) tidak perlu takut," kata Ani Yudhoyono seraya menambahkan bahwa ia dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga tidak merokok.

Ibu Negara juga mengingatkan para orang tua bahwa merokok selain merugikan kesehatan juga merugikan keuangan keluarga, apalagi untuk keluarga miskin.

"Alangkah baiknya jika uang untuk rokok digunakan untuk makanan bergizi," katanya. Harga satu bungkus rokok setara dengan harga satu kilogram telor ayam.

Pada kesempatan itu, Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Prof Dr Farid Anfasa Moeloek mengatakan 11 persen belanja masyarakat miskin adalah untuk rokok, jauh lebih besar dari konsumsi rokok keluarga kaya (9 persen), sehingga rokok merugikan kesejahteraan keluarga.

"Rasanya tidak tega kalau menyuruh suami saya berhenti merokok, dia sudah bekerja keras satu hari penuh," kata Sundari (37), seorang ibu rumah tangga yang mengaku terpaksa mengurangi jatah susu formula untuk anak bungsunya seiring kenaikan harga bahan pangan akibat kenaikan harga BBM, namun tidak tega untuk meminta suaminya yang bekerja sebagai teknisi di sebuah pabrik berhenti merokok.

Dari reklame

"Papan iklan di tepi jalan dan satpam sekolah" ujar Amalia (8) saat ditanya dari mana mengetahui rokok untuk pertama kali dan orang pertama yang diliatnya merokok. Kebetulan di keluarganya tidak ada satu orangpun menjadi perokok.

"Lihat dijual di toko dan papa merokok," kata Yudha (7) saat ditanya pertanyaan yang sama.

Mungkin akan ada lebih beragam jawaban jika satu persatu anak-anak di seluruh Indonesia ditanya mengenai perkenalan pertama mereka dengan sebatang racun bernama rokok.

Namun, satu hal yang terkesan ironis adalah sebagian besar anak-anak itu mengenal rokok untuk pertama kalinya di rumah, entah melalui ayah, ibu, paman, kakak atau kakek.

Menurut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono, sekitar lebih dari 43 persen anak-anak Indonesia hidup serumah dengan perokok atau menjadi perokok pasif.

Dalam survei WHO yang dilakukan di 100 negara secara serentak pada 2004-2006 termasuk Indonesia, terungkap bahwa 12,6 persen pelajar setingkat SMP adalah perokok dan sebanyak 30,9 persen pelajar perokok tersebut mulai merokok sebelum usia 10 tahun dan 3,2 persen dari mereka sudah kecanduan.

Hasil lain dari survei itu adalah 64,2 persen pelajar SMP menyatakan terpapar asap rokok orang lain --perokok pasif-- di rumah sendiri dan 81 persen pelajar SMP terpapar dari tempat-tempat umum.

Menurut Iman, ratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) --suatu hukum internasional dalam pengendalian tembakau-- adalah faktor kunci perlindungan anak-anak dari bahaya tembakau.

"Dalam FCTC itu nanti akan ada aturan-aturan turunan yang salah satunya mengatur iklan rokok," ujarnya.

WHO mengklaim bahwa pelarangan segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok terbukti bisa menurunkan tingkat konsumsi rokok hingga 16 persen.

"Orang itu secara alami tidak suka merokok jadi pengaruh iklan itu sangat besar bagi anak-anak, itulah sebabnya perlu hukum yang jelas," katanya.

Sekalipun sejumlah pemerintah daerah dalam beberapa tahun terakhir juga telah membuat sejumlah perda yang mengatur tempat untuk merokok, namun pemerintah Indonesia yang tergabung dalam salah satu penyusun FCTC --yang telah disepakati secara aklamasi dalam sidang WHO 2003-- menjadi satu-satunya negara di Asia Pasifik yang tidak menandatangani dan belum melakukan aksesi FCTC.

Sehingga terkesan ironis ketika pemerintah sibuk mengimbau anak-anak muda untuk tidak merokok melalui tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2008, "Anak Muda Tanpa Rokok/Tobacco Free Youth" namun tidak mencoba menyediakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak yang kadang masih terlalu hijau untuk memilih.

Anak-anak yang sebagian besar bahkan belum cukup umur dan hidup di lingkungan yang sangat akrab dengan rokok diharusnya mempunyai kesadaran penuh bahwa rokok tidak sehat sehingga harus dijauhi.

Selama ini, disadari atau tidak pemerintah memang terkesan enggan melepas keuntungan-keuntungan yang dihasilkan dari industri rokok, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga pajak.

Jika selama ini pajak yang telah disumbangkan oleh perusahaan rokok di Indonesia memang benar digunakan untuk membiayai pembangunan --salah satunya mungkin pembangunan rumah sakit kanker dan jantung-- maka jangan-jangan rakyat Indonesia harus berterima kasih pada jutaan perokok di Indonesia yang sudah rela mengorbankan kesehatannya demi kelangsungan industri rokok dan pajak dari mereka.

Jangan-jangan pula para perokok tersebut layak mendapat julukan pahlawan pembangunan karena rela mengorbankan kesejahteraan keluarganya untuk tetap menghisap rokok yang jelas-jelas sudah mereka ketahui akibat buruknya.

Tapi, satu yang jelas diuntungkan tentu saja para taipan rokok yang menduduki deretan 10 orang terkaya di Indonesia. Simalakama industri rokok itu terpotret jelas dalam film satir unggulan Golden Globe Award 2006 karya Jason Reitman yang berjudul Thank You for Smoking. (*)

COPYRIGHT © 2008

Dari : http://www.antara.co.id/arc/2008/6/11/balada-sebatang-racun-bernama-rokok/