Tuesday, November 4, 2008

Nikah Kiai

Nur Hidayat, wartawan Tempo

Pagi itu, Tukijan sudah tampak memakai baju batik baru khas Pekalongan. Rambut barunya juga sudah rapi, mirip penampilan bintang film Wingky Wiryawan.

Model rambut itu memang sengaja diubahnya tempo hari, setelah Wakidi meledek rambut Tukijan persis rambut Harmoko, penjual koran eceran di stasiun kereta api. Kata Wakidi, rambut Tukijan teramat klimis, sampai-sampai lalat pun bisa kepeleset kalau nekat hinggap sedetik saja.

Tukijan pun tersenyum di depan cermin, melihat rambutnya sudah tidak klimis. Setelah merapikan baju batiknya yang belum lunas dibayar itu, Tukijan melangkah keluar rumah. "Lho, kok kamu masih pake kaus, Di? Nggak jadi nyumbang mantenan Lik Darso?" kata Tukijan kepada Wakidi, yang baru saja datang.

Wakidi langsung duduk di kursi teras. "Males. Lik Darso nekat gitu kok. Dia itu udah 35 tahun. Masak nikah sama anak 15 tahun?"

Tukijan tertawa. "Kamu itu ketinggalan zaman. Sekarang ini kan lagi ngetren, pria setengah baya menikah dengan anak belasan tahun. Di Bedono, Kabupaten Semarang, anak 12 tahun aja dikawinin, kok."

"Itu bukan tren, tapi nekat!"

"Lho, dulu nabi kan juga gitu."

"Memang iya. Tapi beda konteksnya. Nabi itu nikah supaya perempuan pada zaman itu tidak dijajah sama laki-laki."

"Lho, kiai yang di Bedono itu juga begitu."

"Sekarang ini zamannya udah lain. Konteksnya udah beda. Sekarang kan ada hukum positif, hukum negara. Makanya nggak ada lagi laki-laki yang sembarangan mengumbar nafsunya sama perempuan. Kita harus menghormati hukum agama dan hukum positif itu."

"Ssstt... udah, jangan ngurus orang lain. Kita sekarang tinggal menikmati makanan yang disajikan sama Lik Darso. Sebenarnya kan mereka udah lama nikah. Nikah siri!"

"Waduh! Makin kayak artis Lik Darso ini."

"Kayak artis gimana?"

"Sebagian artis itu kan, kalau ketahuan hamil empat bulan padahal nikahnya baru sebulan lalu, selalu ngomong udah nikah siri."

"Ya, apa salahnya?"

"Kan kita hidup di Indonesia. Agama kita sudah menyuruh kita menghormati ahli agama serta pemimpin dan peraturan yang sudah dibuatnya. Sekali lagi, ada hukum positif yang mencatat semua pernikahan. Kalau udah nikah siri, nikah di depan guru agama, ya... apa susahnya sekalian mencatatkan diri di KUA?"

Tukijan hanya diam.

"Iya, ya. Kok banyak orang yang ngaku ahli agama, lalu mentang-mentang, dan akhirnya nggak menghormati hukum positif di negara kita."

Wakidi bergegas pergi. "Mau ke mana kamu?" tanya Tukijan. "Mau ganti baju batik."

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/11/03/Berita_Utama-Jateng/krn.20081103.146774.id.html