Wednesday, November 5, 2008

Menggugah Ekonomi 'Negeri Ginseng' dengan 14 Triliun Won

Penulis : Irana Shalindra

Korea Selatan menjadi 'macan Asia' kedua setelah Jepang yang siap meredam perlambatan
ekonominya dengan tambahan anggaran.

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) berencana memompakan likuiditas tambahan sebesar 14 triliun won (US$10,8 miliar) ke dalam anggaran negara tahun depan. Langkah tersebut dimaksudkan untuk menstimulasi permintaan domestik sehingga Korsel dapat terhindar dari kemungkinan resesi ekonomi.

Menurut Menteri Keuangan Korsel Kang Man-soo, pemerintah akan mengalokasikan 4,6 triliun won untuk pembangunan infrastruktur daerah, dan 3 triliun won untuk insentif fiskal bagi
investor sektor manufaktur.

Pemerintah juga menganggarkan 1,3 triliun won untuk lembaga keuangan pemerintah, termasuk Korean Development Bank. Dana tersebut ditujukan untuk memperlancar pemberian kredit bagi perusahaan-perusahaan kecil dan para eksportir. Jumlah serupa akan dikeluarkan pemerintah untuk menyediakan fasilitas medis bagi mereka yang berpenghasilan rendah, serta membuka lapangan kerja bagi warga senior dan internships (magang) bagi warga yang lebih muda.

Langkah-langkah tersebut diprediksi menambah angka pertumbuhan ekonomi Korsel pada 2009 sebesar 1%, menjadi 4% sampai 4,5%. Pada saat yang bersamaan, paket stimulus ini akan membuka 200 ribu lapangan kerja baru.

Tanpa upaya antisipasi, laju pertumbuhan ekonomi salah satu 'macan Asia' itu terancam anjlok jika kondisi perekonomian global terus memburuk. Menurut prediksi pemerintah sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Korsel tahun depan dapat turun hingga di bawah 3%.
Kemungkinan tersebut diperkuat laporan neraca perdagangan internasional Korsel per Oktober 2008. Ekspor yang merupakan mesin utama pertumbuhan ekonomi Korsel mencatatkan pertumbuhan terendah dalam 13 bulan belakangan karena angka pengiriman barang ke China turun untuk pertama kalinya sejak 2002.

"Kekhawatiran mengenai likuiditas valuta asing kini sudah mulai mereda. Ini saatnya kita lebih memfokuskan diri pada perekonomian riil," ucap Presiden Korsel Lee Myung-bak dalam siaran radio setempat yang dikutip Bloomberg, kemarin.

Sebelumnya, negara yang pernah menjadi pasien Dana Moneter Internasional (IMF) satu dasawarsa lalu itu telah menurunkan suku bunga acuan dan menyepakati pertukaran valas bilateral dengan bank sentral AS senilai US$30 miliar. Bank sentral juga menyediakan 100 miliar won untuk menjamin pinjaman antarbank.

Paket stimulus ekonomi yang dilakukan Korsel mengikuti jejak Jepang yang pekan lalu mengumumkan paket serupa senilai US$51 miliar. Langkah yang sama juga ditempuh Jerman yang menggelontorkan US$64,2 miliar untuk menstimulasi perekonomiannya.

Mata uang Korsel, won, telah mengalami depresiasi sebesar 28% sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut merupakan yang terburuk di antara mata uang regional. Adapun indeks bursa saham Kospi menukik hingga 41% dalam periode tersebut.

Namun, paket stimulus fiskal itu tampaknya berhasil mengundang sentimen positif dari para investor. Indeks bursa Kospi, kemarin, ditutup menguat 1,5%. Sementara itu, nilai tukar won menguat 26 poin menjadi 1,262 per dolar AS.

"Investor tampaknya memberikan apresiasi terhadap konsistensi pemerintah Korsel memicu perekonomian domestik," ujar analis Samsung Securities So Jang-ho kepada Dow Jones.
Tak hanya di Korea, indeks saham di negara-negara Asia lain, kemarin, juga ditutup menguat di kisaran 5%. Artinya, sudah lima hari berturut-turut bursa saham Asia berhasil bertahan di jalur positif setelah sempat terpuruk akibat investor beramai-ramai menarik dana mereka dari pasar negara berkembang. (E-1)

iras@mediaindonesia.com

http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDExODc=