Tuesday, November 4, 2008

“Kiai Kanjeng”, Wilders dan The Clash of Ignorance

“Kiai Kanjeng”, Wilders dan The Clash of Ignorance

Muhammad Najib Azca*

Rangkaian tour Kiai Kanjeng (KK) bertajuk Voices and Visions: An Indonesian Muslim Poet Sings a Multifaceted Society di berbagai kota di negeri Belanda telah usai. Rombongan grup pemusik gamelan kontemporer itu telah kembali ke tanah air— kecuali Emha Ainun Nadjib, penyair dan tokoh utama KK, yang masih tertinggal di Belanda untuk menghadiri acara Pertemuan Pelajar dan Pemuda Indonesia di Luar Negeri yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda di Den Haag, 25-26 Oktober 2008.

Wajah Islam yang ramah dan toleran

Meski telah usai, rangkaian tour KK itu meninggalkan sejumlah jejak sosio-kultural yang penting untuk dicatat. Pertama, KK telah menunjukkan wajah Islam yang lain, yang ramah dan toleran, jauh berbeda dari citra yang populer beredar di masyarakat dan media barat. Dalam rangkaian pentasnya, KK tampil anggun, toleran dan penuh percaya diri: lagu-lagu pop Barat semacam Imagine dan StandbyMe dari Beatles bersenandung berangkaian dengan Shalawat Nabi; bahkan lagu kudus umat Kristiani Silent Night, Holy Night ditembangkan dengan ‘lirik’ lagu wajib kaum Nahdhiyyin: Shalawat Badar....

(Sebagai kontras: dalam waktu berdekatan sejumlah media, baik lokal maupun internasional, mengangkat berita tentang rencana eksekusi para pelaku bom Bali, yaitu Imam Samudra, Amrozi dan Muchlas alias Ali Ghufron. Contohnya, koran The Daily Telegraph pada 23 Oktober lalu menulis sebuah berita berjudul Bali bomber pledges son to terror tentang surat wasiat yang ditulis Muchlas serta anak bungsunya yang diberi nama Osama...)

Lintas-budaya, lintas-agama

Kedua, rangkaian tour KK telah memberi contoh konstruktif praxis kerjasama lintas-budaya dan lintas-agama di era yang populer disebut sebagai ‘pertarungan peradaban’ (clash of civilization)—sebuah tesis yang dikumandangkan oleh pemikir terkemuka Amerika Serikat Samuel Huntington (1993). Seperti diketahui, rangkaian tour KK di Belanda diprakarsai dan disponsori oleh sekelompok pemuka agama yang tergabung dalam Gereja Protestan Belanda dengan sokongan dari Hendrik Kraemer Institut. Ide mengundang KK muncul setelah atmosfir sosial politik di Belanda menghangat setelah politikus Sayap Kanan Geert Wilders melansir film propaganda anti-Islam bertajuk Fitna.

Praxis kerjasama ini sekaligus melawan dan menggerus dua stereotype: pertama, bahwa mayoritas warga Belanda berpandangan sama-dan-sebangun dengan Wilders dalam melihat Islam; kedua, bahwa Islam berwajah tunggal “gemar teror dan kekerasan”—seperti dicitrakan oleh, antara lain, film Fitna. Dengan mengundang grup musik santri untuk berpentas berkeliling ke negeri Belanda, itu jelas menunjukkan sikap ramah dan bersahabat dari sejumlah pemuka Kristen Protestan Belanda. Kehadiran dan pementasan KK di Belanda, sebagian dilangsungungkan di gereja, juga mewartakan “wajah cinta damai dan toleransi” yang dimiliki oleh mayoritas kaum Muslimin di Nusantara.

The Clash of Ignorance

Potret global kontemporer kita saat sesungguhnya lebih mendekati apa yang diungkapkan oleh pemikir Amerika keturunan Palestina Edward Said (2001) sebagai “the clash of ignorance” ketimbang “the clash of civilization.” Dengan the clash of ignorance (mungkin bisa dialihbahasakan sebagai ‘perang kejahilan’ atau ‘perang kebebalan’), Said menunjuk bahwa pangkal soal jagat kontemporer kini adalah kejahilan dan kebebalan kita mengenai sang liyan, the other. Thesis ‘pertarungan peradaban’, demikian kritik Said, muncul karena kegagalan untuk melihat dinamika internal dan kemajemukan pada setiap peradaban—seolah masing-masing bersifat homogen dan berwatak diametral. Selain itu, kesalahan mendasar lainnya adalah karena melihat ‘identitas’ dan ‘peradaban’ sebagai fenomena yang mandek dan tertutup, bukan sebagai fenomena hidup yang bisa saling bertukar, saling-berbagi dan saling-memperkaya.

Lantaran ‘pertarungan kebebalan’ itulah maka perbedaan cenderung dilihat sebagai permusuhan; kemajemukan cenderung dimaknai sebagai sumber petaka. Celakanya, itulah potret global kontemporer kita seperti terlihat dalam laporan survei global di 13 negara Barat dan Muslim yang dilakukan oleh Pew Global Attitudes Project (2006) bertajuk The Great Divide: How Westerners and Muslims View Each Others.

(lihat di http://pewglobal.org/reports/pdf/253.pdf)

Great Divide, Terbelah Dalam

Keterbelahan yang dalam itu antara lain terlihat pada data yang menunjukkan bahwa mayoritas warga di dua belah dunia itu (Barat dan Muslim) melihat bahwa hubungan Barat-Muslim ‘pada umumnya buruk’ (generally bad) ketimbang ‘pada umumnya baik ‘generally good’; dengan angka yang mencolok di Jerman (70: 23), Perancis (66: 33), Turki (64: 14)—termasuk komunitas Muslim di Jerman (60: 29) serta Muslim di Inggris (62: 23).

Jurang tajam itu juga terlihat pada prasangka kultural yang terdapat pada masing-masing komunitas. Survei itu, misalnya, menunjukkan bahwa mayoritas Muslim melihat orang Barat berwatak selfish (mementingkan diri sendiri), immoral (tidak bermoral) dan greedy (tamak). Sebaliknya, sebagian besar warga Barat melihat kaum Muslim berkarakter fanatik, violent dan kurang toleran.

Duta Perdamaian dan Toleransi

Dalam konteks dan konstelasi global yang tidak sehat dan ramah semacam itu diperlukan gerbong duta perdamaian dan toleransi yang mewartakan sisi cerah, positif dan memperkaya dari masing-masing bongkah yang terbelah itu: Barat dan Islam. Jalan kekerasan dan permusuhan jelas bukan merupakan jalan indah untuk dilintasi. The clash of civilization bukan nubuat yang niscaya untuk ditempuh. Sebaliknya, jalan perdamaian, toleransi dan saling-memperkaya merupakan pilihan terbaik yang mesti diarungi.

Ringkasnya: bukan jalan Fitna ala Geert Wilders, tapi jalan Kiai Kanjeng ala Cak Nun alias Emha Ainun Nadjib...

Gorontalostraat-Amsterdam, 27 Oktober 2008


*Dosen Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekarang tengah studi doktotr di Universiteit van Amsterdam (UvA).