Wednesday, November 19, 2008

Islam, antara Kapitalisme dan Komunisme

Oleh: Muhammmad Aqil Irham - Ketua PW GP Ansor Provinsi Lampung

Kapitalisme dalam implementasinya berkali-kali mengalami revisi sebagai wujud inkonsistensinya. Aslinya kapitalisme merupakan praktek usaha perseorangan dan swasta yang lepas kontrol dari intervensi sebuah negara. Kapitalisme merupakan mainstream domain ekonomi yang lahir dari filsafat liberalisme. Kebebasan adalah kata kunci. Tidak ada ruang bagi pembatasan. Kebebasan biar bablas dan alamiah.

Kemampuan dan daya manusiawi individual adalah instrumen kehidupan yang lebih daripada cukup untuk menjalankan kehidupan. Pandangan ini paradoks dengan sosialisme dan komunisme yang berakar pada filsafat materialisme historis Marx, yang memandang kebebasan individual dibatasi masyarakat dan negara. Negara memiliki tanggung jawab menyejahterakan warga negara.

Komunisme optimistis mampu mewujudkan masyarakat tanpa kelas: Masyarakat semua bisa sejahtera. Kedua pandangan ini dalam prakteknya tak mampu membuktikan konsistensi.

Untuk menghindari keruntuhan ideologi tersebut, seringkali keduanya saling mengadopsi. Komunisme pernah mencoba melakukan kapitalisasi namun gagal dan kapitalisme juga meminta uluran tangan negara sebagai pertanda kelemahannya. Apa yang sedang terjadi di Amerika, di mana anjloknya harga saham di pasar modal merupakan titik-titik lemah ideologi ini yang diambang kehancuran menyusul “saudara sepupu-nya” komunisme.

Islam sejak dini mengingatkan dunia bahwa kekayaan individual sebagai hasil jerih payah yang halal diwajibkan didistribusikan kepada orang-orang miskin, lemah, dan marginal baik sebagai akibat kultural maupun ketidakadilan struktural. Tujuan Islam ini merupakan langkah antisipasi agar modal tidak terkonsentrasi dan dikuasai segelintir orang-swasta tertentu saja.

Pasar saham merupakan tempat mainnya pelaku-pelaku pasar yang menginvestasikan modalnya agar terjadi akumulasi modal dalam jangka waktu panjang. Perputaran modalnya pun hanya dinikmati minoritas sementara mayoritas berada pada kehidupan yang nyaris mati akibat susahnya mereka menghadapi tantangan hidup tanpa ada belas kasihan dan kasih sayang. Mayoritas masyarakat tidak paham pasar modal, di pasar tradisional pun mereka tidak mampu karena daya beli nya lemah. Ideologi mana yang peduli atas kehidupan mereka?

Runtuhnya Kapitalisme Global

Pasar modal internasional memiliki ketergantungan antarnegara di dunia. Sebagai bos kapitalisme, remote-control di tangan Amerika. Goncangan dan gempa ekonomi tentu berimbas ke semua negara, termasuk Indonesia.

Hampir semua negara terpengaruh liberalisme dan kapitalisme global. Pancasila sebagai ideologi negara kehilangan relevansi dan aktualisasinya yang diakibatkan trauma rezim Orde Baru. Indonesia berjalan seakan tanpa arah dan panduan. Karena itu, mau tidak mau kita ikut arus perubahan dunia dengan sikap reaktif, spontan dan seringkali adaptif. Dalam konteks ini dapat kita ketahui dari bagaimana langkah pemerintah Indonesia dalam mengambil sikap dan respons atas krisis finansial ini.

Sudah cukup bukti bahwa resesi ekonomi Amerika disebabkan lepas kendali mekanisme pasar bebas internasional yang dianjurkan kapitalisme. Menurut Ahmad Erani Yustika, Direktur Eksekutif Indef, tragedi Amerika bersumber dari keyakinan kapitalisme bahwa ekonomi tanpa regulasi negara dan internasionalisasi persaingan ekonomi. (Kompas, [13-10]).

Indonesia memang berbeda dengan AS. Di negeri Paman Sam, 60% rakyatnya bermain di pasar modal. Padahal problem kemiskinan dan pengangguran juga merupakan hantu yang menakutkan bagi rakyat Amerika sekarang.

Di Indonesia, 1 juta orang yang berinvestasi secara langsung di bursa saham (Mirza Adityaswara, Kompas, [13-10]).

Dapat kita bayangkan betapa tajamnya ketimpangan dan kesenjangan antara orang-orang kaya dengan orang orang miskin. Segelintir orang berbanding ratusan juta rakyat Indonesia berhadap-hadapan antara orang yang memiliki “uang nganggur” di saham dengan orang yang “nganggur cari uang” dari hari ke hari, minggu ke minggu bahkan dari bulan ke bulan “mengejar uang” di sektor formal dan sektor riil pasar tradisional dan pasar pinggiran kaki lima. Bahkan orang-orang yang tidak berpenghasilan karena angka penganguran masih cukup tinggi.

Solusi

Hak milik pribadi bukan tidak diperkenankan dalam Islam. Menjadi hukum alam, tidak mungkin ada kehidupan tanpa kelas.

Sistem yang adil akan mampu melihat stratifikasi dan kelas sosial secara komprehensif. Sistem dan ideologi mana di dunia yang begitu peduli dan eksplisit menunjukkan upaya membantu golongan ekonomi lemah.

Prinsip Islam menyatakan sebagian harta kekayaan orang kaya merupakan hak orang miskin. Berarti hak orang miskin di tangan orang kaya itu boleh diambil baik secara persuasif maupun paksa.

Kekayaan perseorangan dan swasta yang dimiliki minoritas harus bermanfaat untuk kepentingan mayoritas dengan mekanisme pengaturan oleh sebuah negara yang sistem pemerintahannya adil, kredibel, dan amanah. Kekayaan pribadi dan swasta yang tidak bersedia menginvestasikan uangnya ke sektor produktif di kalangan ekonomi lemah wajib diberi sanksi tegas oleh negara.

Sebagai kepala negara (khalifah), Abu Bakar dengan tegas dan “marah” kepada orang-orang yang ingkar menunaikan kewajiban zakat setelah Rasulullah meninggal. Zakat adalah solusi ketimpangan sosial ekonomi. Yang tidak diperkenankan Islam adalah menumpuk-numpuk harta untuk memperkaya diri. Harta merupakan amanah, sebagaimana anak keturunan kita juga amanah yang dititipkan sementara dengan jaminan “hak guna kelola”. Substansi dan makna hakiki dari seluruh harta kekayaan itu adalah milik Allah dan merupakan ujian dari-Nya.

Demikian sebaliknya bagi orang-orang miskin dan fakir merupakan ujian yang juga ada regulasinya agar tidak menimbun “harta” dari hasil minta-minta. Dengan kata lain, Islam melarang orang melanggengkan kemiskinannya dengan cara yang kurang pantas.

Sekarang, mengapa bangsa kita tidak self-confidence? Sosialisme-komunisme dan liberalisme-kapitalisme tidak dapat direvisi secara parsial seperti dilakukan di Amerika karena akan merombak bangunan filosofinya. Momentum ketakberdayaan ideologi dunia ini, sistem ekonomi Pancasila perlu diaktualisasi dan direvitalisasi dengan mengadopsi nilai-nilai universal ajaran Islam.

Bahwa kekayaan sumber daya alam dikuasai negara dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat, orang-orang miskin, bodoh, dan terbelakang merupakan tanggung jawab bersama yang diatur mekanisme pemberdayaannnya oleh negara agar terjalin keharmonisan dan kesejahteraan serta kedamaian antarwarga negara dan dunia. Ini adalah prinsip-prinsip Pancasila yang perlu dijual ke pentas dunia.

Gagalnya komunisme dan kapitalisme, seharusnya menjadi inspirasi kita menawarkan alternatif ideologi dunia yang lebih berkeadilaan dan menjunjung tinggi kesetaraan negara-negara maju dan berkembang bahkan dengan negara-negara miskin sekalipun.

***

sumber http://gp-ansor.org/?p=6742