Wednesday, November 5, 2008

AHMADIYAH BERLIN

Pada tanggal 6 sampai dengan 20 Oktober 2008 Emha dan KiaiKanjeng Gamelan Orkestra di undang oleh Centre for Reflection of the Protestant Church, Kerk in Nederland, Hendrik Kraemer Institute, Tur ini bertajuk Voices & Visions: An Indonesian Muslim Poet Sings a-Multifaceted Society. Selama di Nederland mereka tour di Di kota; (Amstelveen, Deventer, Nijmegen, Leeuwarden, Stenden, Zwolle, Windesheim, Zwolle, Rotterdam, Etten-Leur, Amsterdam), dan bertemu dengan berbagai komunitas ( Merkez Moskee, Al-Hikmah Moskee, Al Kabir Moskee, Cristus Triumfatorkerk, Julianakerk, Jeruzalem kerk, Gerardus Majella kerk, Sinagoge Zwolle, Stenden Hogeschool, Christelijke Hogeschool, dan lain-lain).

Menurut pengakuan Pdt. Aart Verburg (Protestante Kerk in Nederland) yang mengundang Emha dan KiaiKanjeng di Belanda: "Terus terang saja setelah film Fitna yang diproduksi oleh Geert Wilders ditayangkan, ada semacam ketegangan antara kaum Nasrani dan Muslim di Belanda, ada semacam komunikasi yang kurang bagus. Bagi kami yang penting Gereja Protestan Belanda merasa mempunyai tugas di tengah masyarakat untuk menciptakan hubungan baik, sehingga masyarakat itu tidak terpecah belah. Dengan melalui budaya orang juga bisa menciptakan ketegangan, menyalahkan orang lain dan menciptakan kegelisahan. Sekarang untuk mempertemukan kembali dan menciptakan suasana yang lebih bagus lagi, kita juga masuk melalui pintu budaya, dan Emha beserta Kiaikanjeng dengan musiknya, dengan keunikannya justru berhasil menciptakan suatu pertemuan yang sangat unik".

Pdt. Aart melanjutkan pengakuannya, bahwa di kota Den Hag pemerintah Belanda sekarang ini tengah sibuk memperhatikan persoalan-persoalan keragaman yang bersumber dari berbagai kelompok antar golongan (orang Turki, Maroko, Belanda, Suriname dan lain-lain), di wilayah-wilayah yang bermasalah -- Gereja juga hadir di sana bekerjasama dengan orang yang berusaha untuk menciptakan suasana damai diantara semua golongan itu dan juga antara orang yang agama berbeda

Pada tahun 2005, Emha dan KiaiKanjeng tour di Italia persis ketika Paus Johanes Paulus II wafat. Sebuah festival di mana Emha dan KiaiKanjeng dijadwalkan akan tampil dibatalkan tetapi Emha dan KiaiKanjeng justru diminta Walikota Roma untuk tampil dalam kesempatan pemakaman Paus Johanes Paulus II. Mereka secara khusus menciptakan puisi dan komposisi musik dalam rangka penghormatan terhadap Paus berjudul O Papa dan, Emha menceritakan kisah itu dalam kesempatan dialog dan konser-konser di Belanda, KiaiKanjeng memainkannya, demi membangkitkan respons mendalam dari audiens multikultural.

Setelah tour di Nederland, KiaiKanjeng pulang ke Tanah Air—Emha dan Novia Kolopaking melanjutkan perjalan ke Jerman atas undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) selama satu minggu untuk beberapa acara dialog. Pada kesempatan itu Emha dan Novia menyempatkan bertemu dengan Jemaat Ahmadiyah, berikut ini adalah penuturan Emha yang disampaikan melalui email;

Selama ini terdapat kesalahpahaman dan disinformasi serius tentang ‘kasus’ Ahmadiyah di Indonesia. Berita-berita yang sampai ke masyarakat Ahmadiyah di sejumlah Negara menyebutkan bahwa yang terjadi di Indonesia bukan hanya aktivitas Ahmadiyah dilarang, tapi juga para pimpinan atau Imam-Imam Jemaat Ahmadiyah di Indonesia, dibunuh. Demikian menurut Emha Ainun Nadjib, sesudah perjumpaannya dengan Imam Abdel Basith Thariq (Imam Ahmadiyah di Berlin, Jerman) 24 Oktober 2008 yang lalu.

Pertemuan itu berlangsung di Masjid Khadija, markas Jemaat Ahmadiyah Qodiyan di wilayah yang dulunya terletak di Berlin Timur sebelum reunifikasi dua Jerman beberapa tahun silam. “Kecanggihan teknologi informasi tidak banyak menolong berkurangnya kemungkinan distorsi dan deviasi atau bahkan pembalikan fakta-fakta tentang sesuatu hal, terutama yang menyangkut Islam”, katanya.

Jemaat Ahmadiyah dan Kaum Muslimin di Jerman mengalami berbagai ‘ujian’. Berdirinya Masjid Khadija mendapat tentangan keras dari pemerintah lokal dan masyarakat setempat yang dulunya adalah rakyat DDR atau Negara sosialisme Jerman Timur yang memang tidak punya pengalaman berinteraksi dengan Ummat Islam. Tidak sedikit di antara masyarakat lokal tersebut yang bukan hanya fobi atau bahkan anti-Islam, tapi juga belum bisa menerima pergaulan dengan “orang asing” dengan Agama apapun. Akan tetapi konstitusi Negara Jerman mensyahkan berdirinya Masjid itu dan secara konsekwen aparat kepolisian menjaga keamanannya.

Pertemuan Emha dengan Imam Ahmadiyah Berlin itu untuk ‘memastikan’ pandangan Ahmadiyah di kota besar Eropa tentang tiga hal. Pertama, apakah Mirza Ghulam Ahmad itu Nabi atau bukan. Kedua, hujjah atau argumentasi kenabiannya. Ketiga,posisi dan fungsi kitab “Tadzkiroh”.

Sejauh ini yang dimengerti oleh banyak kalangan di Indonesia, alasan kenabian Mirza Ghulan Ahmad adalah menyangkut “khataman-nabiyyin” atau penutup para Nabi. Menurut tafsir Ahmadiyah, kata “khatam” bukan bermakna “penutup” melainkan “cincin”. Muhammad SAW adalah “cincin”nya para Nabi, semacam mutiara indah para Nabi. Argumentasi kedua menyangkut Hadits Nabi Muhammad SAW tentang pelaku hijrah yang terakhir, di mana Ulama Ahmadiyah berbeda pendapat dengan Ulama lain tentang salah satu kata dari kalimat Hadits itu.

Emha mengatakan Imam Ahmadiyah di Berlin itu menyatakan dengan tegas bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi. Argumentasi utamanya adalah kalau sesudah Muhammad SAW tidak ada Nabi, maka Nabi Isa tidak akan bisa turun lagi ke bumi sebagai Al-Masih atau Messiah atau Ratu Adil.

Akan tetapi dinyatakan kenabian Mirza Ghulam Ahmad sama sekali tidak mengurangi kebesaran dan keagungan Nabi Muhammad SAW. “Justru Mirza Ghulam Ahmad diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan keagungan dan keindahan Rasulullah Muhammad SAW”, kata Emha menirukan Abdel Basith Thariq (Imam Ahmadiyah di Berlin), “Muhammad adalah Maestro, Mirza Ghulam Ahmad hanya salah seorang murid beliau, pengagum beliau, pecinta beliau, sehingga kesungguhan cintanya membuat Allah memberinya wahyu dan mengangkatnya sebagai Nabi yang bertugas menyebarkan Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Kitab Tadzkiroh adalah wahyu Allah kepada Mirza Ghulam Ahmad yang dimaksudkan untuk menjunjung keindahan Al-Quran dan turut menyebarkan kebenaran dan keindahannya” .

Di bagian luar maupun dalam Masjid Khadija yang didirikan oleh Jemaat Ahmadiyah itu terdapat berbagai tanda dan tulisan-tulisan sebagaimana yang terdapat pada Masjid Ummat Islam pada umumnya: kaligrafi “Allah”, “Muhammad”, “Syahadatain”, nama-nama Khalifah Empat, Asmaul Husna, di bagian atap dalam Masjid tertulis ayat “Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub” (Niscaya dengan mengingat Allah-lah ketenangan hati didapatkan).

“Semua yang saya kemukakan ini hanya report dan tidak ada opini saya sendiri”, kata Emha.