Saturday, November 1, 2008

Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Sultan Yogya ini gemar menonton silat. Ketika tidak lagi menjabat Wakil Presiden, kegemaran akan silat ini disalurkannya melalui video. Dan begitulah, pada Juli 1985, sehabis menyaksikan tak kurang dari sepuluh seri cerita silat Mandarin, Sri Sultan terjatuh ketika menuju kamar mandi.

Sekitar dua minggu Sultan terbaring di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Acaranya yang penting, menandatangani perjanjian kerja sama antara Kota Yogya dan Kota Kyoto, Jepang, harus diwakilkan kepada Sri Paku Alam VIII, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan Sri Sultan tetap harus banyak beristirahat, sehingga penyulutan Api PON XI yang rencananya dilakukannya sendiri, sebagai Ketua Umum KONI Pusat, juga diwakilkan.

Lahir dengan nama Raden Mas Daradjatoen, di Universitas Leiden, Belanda, ia tak sempat merampungkan studinya. Begitu mempersiapkan skripsi dalam bidang indologi, telegram ayahnya, Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, datang. Daradjatoen diminta pulang.

Ayahnya menjemput di Batavia, kini Jakarta. Ayah dan anak menginap di Hotel Des Indes, sekarang pusat pertokoan Duta Merlin. Tidak ada pembicaraan serius antara keduanya. ''Kami tak ada waktu untuk itu. Terlalu banyak acara yang harus dipenuhi,'' tutur Daradjatoen.

Salah satu acara penting adalah, Daradjatoen menerima keris pusaka Kiai Jaka Piturun di sebuah kamar hotel dari ayahnya sendiri. ''Keris pusaka yang sampai sekarang tersimpan baik di keraton itu adalah yang selalu diserahkan oleh raja kepada seseorang yang diinginkannya menjadi putra mahkota. Dengan penyerahan keris itu, menjadi jelaslah maksud ayah saya dan saudara-saudara saya,'' tutur Daradjatoen beberapa tahun kemudian -- setelah menjadi Hamengkubuwono IX -- seperti tertulis dalam buku biografinya, Tahta untuk Rakyat. Dan rencana itu memang berjalan mulus. Ia dilantik menjadi Putra Mahkota pada 18 Maret 1940, lima bulan setelah ayahnya wafat (22 Oktober 1939), dengan gelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putra Narendra Mataram.Selang lima menit kemudian, di tempat yang sama, Bangsal Manguntur Tangkil -- tempat para Sultan biasa bersemadi -- ia dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta dengan gelar: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping IX. Ucapannya yang sangat terkenal pada saat pelantikan itu adalah, ''Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap orang Jawa,'' kata Sultan baru ini.

Menjelang masuknya Jepang, bangsawan Jawa banyak yang khawatir akan tentara penjajah yang menggantikan Belanda ini. Mereka mengajak Sultan menyingkir ke Australia, atau ke Belanda. ''Apa pun yang terjadi, saya tidak akan meninggalkan Yogya. Justru bila bahaya memuncak, saya wajib berada di tempat, demi keselamatan keraton dan rakyat,'' katanya.

Tidaklah aneh kalau Raja Yogya ini ikut berjuang di masa perjuangan kemerdekaan. Andilnya besar dalam perundingan- perundingan dengan Belanda. Sudah banyak diketahui, bagaimana sikap Sultan membela tanah airnya, dan membela keutuhan keraton. Jabatan-jabatan di luar keraton yang dipegangnya juga bukanlah enteng. Sultan menjadi Menteri Negara (1946-1949), Menteri Pertahanan Koordinator Keamanan Dalam Negeri (1949), Wakil Perdana Menteri (1950-1951). Di masa Orde Baru, ia Wakil Presiden (1973-1978).

Nama panggilannya di masa kecil memang berbau Eropa: Henkie. Ia menjadi anggota perkumpulan kepanduan NIPC (Nederlands Indische Padvinders Club). Di sinilah ia mendapat kepandaian memasak. Kelak, setelah menjadi orang penting, ia punya klub memasak tak resmi. Anggotanya, Radius Prawiro, Budiardjo, Frans Seda, Surono Reksodimedjo, Soegih Arto, Ashari Danudirdjo, dan D. Suprayogi. ''Tetapi kini saya jarang memasak lagi,'' kata Sultan.

Istri Sultan HB IX yang dikenal dan setia mengikuti upacara di Keraton Yogya, ada empat: B.R.A. Pintoko Poernomo yang memberi lima anak, B.R.A. Windijaningroem yang memberi empat anak, B.R.A. Hastoengkoro memberi enam anak, dan B.R.A. Tjiptomoerti memberi enam anak. Yang mengagetkan, suatu ketika, di depan keempat istrinya itu, Sultan menyatakan, tidak seorang pun yang berstatus garwa padmi (permaisuri). Konsekuensi pernyataan ini adalah, tidak akan ada Putra Mahkota, dan itu berarti tidak ada tanda-tanda munculnya Sultan HB X, sebagai penggantinya.

Tjiptomoertilah yang menemani Sultan di Jakarta, selama ia memegang berbagai jabatan penting. Beberapa bulan setelah Tjiptomoerti wafat, 30 Maret 1980, Sultan menikahi Norma, wanita dari Kampung Tanjung, Mentok, Pulau Bangka -- yang dibawa Bung Karno dan dijadikan anak angkatnya di Jakarta. Kabarnya, tak pernah diajak Sultan ke Keraton Yogyakarta. Bersama Norma, Sultan aktif dalam berbagai kegiatan usaha dan mengurusi olah raga. Hari ulang tahun Sultan belakangan ini selalu dirayakan di cabang-cabang Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) tempat Sultan HB IX menjabat Presiden Komisaris Kehormatan. Ulang tahun ke-73 (1985) dirayakan bersamaan dengan peresmian BDNI Cabang Semarang.

Sumber: http://www.pdat.co.id/ads/html/S/ads,20030626-91,S.html

Sri Sultan Hamengkubuwono IX (12 April 1912 - Oktober 1988) adalah Gabenor pertama Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan ke-9 Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Kesultanan Yogyakarta) dan naib presiden Indonesia yang kedua.

Beliau dilahirkan di Sompilan Ngasem, Yogyakarta dan adalah anak kepada Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Beliau menuntut di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930 beliau melanjutkan pelajarannya di Universiti Leiden di Belanda. Sultan muda ini telah menerima pendidikan cara Barat tetapi beliau tidak melupakan asal-usul Jawanya. Beliau ditabalkan sebagai Sultan Yogyakarta pada 18 Mac 1940 dan digelar: "Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senopati Ing Alogo Ngabdurrakhman Sayidin Panotogomo Kholifatullah Ingkang Kaping Songo".

Sri Sultan Hamengkubuwono IX terkenal sebagai seorang yang memberi sokongan kuat kepada gerakan kemerdekaan di Indonesia. Beliau juga terkenal sebagai pendukung prinsip reformasi. Sebagai contoh, salah satu dasar kerajaan yang diperkenalnya adalah untuk memberi lebih banyak kuasa kepada ketua-ketua kampung dan juga membaharui pentadbiran kratonnya.

Jurus selepas pengisytiharan kemerdekaan Indonesia pada 17 Ogos 1945, beliau dan Sri Paku Alam VIII memutuskan untuk menyokong penubuhan republik yang baru itu. Pada awal 1946, ibu kota Indonesia dengan cara senyap dipindahkan ke Yogyakarta dan Sri Sultan telah memberi dana untuk membangunkan mekanisme kerajaan itu. Pihak Belanda pula tidak berani untuk menggulingkan Sri Sultan. Semasa pendudukan selama enam bulan oleh Belanda pada 1949, mereka cuba untuk memujuk Sri Sultan untuk mengetuai sebuah kerajaan seluruh Jawa yang mereka reka tetapi tidak berjaya. Sewaktu masa pendudukan, Sri Sultan sering berhubung dengan gerila republik Indonesia yang beroperasi di kampung yang sekitaran. Disebabkan peranan aktif yang diambilnya semasa waktu pendudukan ini, kesultanannya dinaikkan taraf ke sebuah "dearah istimewa" dengan Sri Sultan sebagai Gabenor dan Sri Paku Alam VIII sebagai Naib Gabenor seumur hidup dan melapor langsung kepada kerajaan pusat di Jakarta dan bukan kepada Gabenor Jawa Tengah.

Selain menjadi Gabenor Yogyakarta, beliau juga dilantik sebagai Menteri Pertahanan pada tahun 1950an dan juga Menteri Penyelaras bagi Ekonomi, Perindustrian dan Pembangunan semasa pemerintahan Suharto, sebelum dinaikkan menjadi Naib Presiden Indonesia pada 1973. Sri Sultan terkenal sebagai seorang yang menolak tawaran untuk melanjutkan penggalnya ke peringkat kedua untuk membantah kuasa authoritarian yang dipegang oleh Suharto.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX meninggal dunia di George Washington University Medical Center, Amerika Syarikat, semasa dirawat disana pada Oktober 1988 dan dikebumikan di pemakaman diraja di Imogiri, Yogyakarta. Di kraton diraja di sana terdapat sebuah muzium yang didirikan untuk memperingati sumbangan beliau.