Saturday, November 1, 2008

RAHASIA ISMULLAHIL-A'ZHOM - NAMA ALLAH YANG KESERATUS

Oleh: Muhammad Zuhri (2001)

Di tengah kemelut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menawarkan kesejahteraan hidup umat manusia di satu sisi, dan mengancam kelestarian alam pada sisi lain, muncul sebuah gagasan besar untuk mengidiologisasikan globalisasi. Pada saat yang sama timbul pula berbagai pembahasan tentang ajaran tasawuf, jalan hidup dan kebijakannya di forum diskusi, penerbitan buku dan media massa, seolah sebuah jawaban yang dilemparkan dari sebuah dunia jauh, dunia masa silam, yang wujud faktualnya semakin langka di abad kita. Umat manusia berjalan dan terus berjalan menyusuri lorong kemungkinan yang bisa dikuakkan, hingga melewati batas yang semestinya didapatkan, tanpa menemukan titik terang yang memberikan makna hakiki dari kehadirannya.

KETELANJURAN
Nasibnya persis seperti Musa Alaihissalam dan Yusa' bin Nun ketika mengembara mencari tempat pertemuan dua samudera. Mereka mesti mengalami kebablasan (terlewat jalan) terlebih dahulu sebelum akhirnya menarik mundur langkah yang diambilnya (Lihat QS. Al-Kahfi, ayat 60-64). Fenomena tsb mengisyaratkan telah sampainya manusia modern pada puncak kesadaran mereka akan makna keberadaannya yang bukan anak struktur, melainkan sebagai subjek sejarah yang bertanggung jawab terhadap diri dan semestanya.

Rupanya mereka telah terpanggil oleh Rabbul 'alamin untuk memerankan manajerial-Nya di muka bumi lewat situasi khauf, yaitu situasi ketakutan yang memuncak karena terancam kemusnahan akibat hasil karyanya sendiri (Lihat QS. Ar-Rum, ayat 41). Mereka terpaksa harus memilih salah satu dari dua kemungkinan, yaitu siap hancur bersama prasangkanya tentang kenyataan, atau mengakui kelemahan dirinya sebagai hamba (Lihat QS. Al-Kahfi, ayat 29).

TANDA KEGAGALAN

Di dalam situasi dilematis seperti itu, tiada pilihan yang paling aman daripada menempuh jalan khayal. Dan bangsa-bangsa maju itu pun menciptakan new image of man sebagai kompensasi dari sikap skeptisnya. Sayangnya image mereka tentang Superman, Rambo, dan Ninja, tak mampu menciptakan situasi sakinah, bahkan memancing timbulnya rasa cemas, curiga dan balas kekerasan dari pihak yang merasa dirugikan (Peristiwa Teluk dan Korea).

Sejarah telah membuktikan bahwa umat manusia tak lagi membutuhkan kekerasan dari luar untuk dapat melejit ke langit ketinggian, tetapi mereka butuh situasi damai yang memungkinkan berlangsungnya evolusi spiritual di dalam diri mereka. Era kehidupan itulah yang ditawarkan oleh Rasulullah SAW sebagai 'jihad akbar', manakala proses revolusi fisik telah purna. Kemudian lorong tersebut menemukan identitasnya sebagai Jalan Kebenaran (tasawuf) yang ditempuh oleh Para Sufi dari zaman ke zaman. Kiranya tak akan menyimpang dari jalan lurus yang telah direntangkan oleh Rasulullah SAW, bila mereka yang telah mencapai situasi "Bebas Dari" kendala alami kemudian meningkatkan pendakiannya menggapai "Bebas Untuk" memberi makna kehadiran mereka di tengah lingkungan umat. Dengan demikian status Hamba Allah yang telah dicapai dengan ketaatannya kepada Tuhan akan mendapatkan fungsinya dalam ikut menentukan warna kehidupan umat manusia di dunia (kekhalifahan). Perspektif kekhalifahan inilah yang vacum di benak bangsa-bangsa maju ketika mereka tampil mencanangkan ide globalisme. Mereka terlalu dini mengklaim dirinya sebagai polisi yang berhak membatasi bangsa lain. Ambisinya untuk menjadi pihak penentu dan kebijakannya yang rendah di dalam memperlakukan manusia sebagai benda mati yang dapat diproses secara kilat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengandaikan kementahan spiritual mereka sekaligus meramalkan kegagalannya di dalam memandu umat manusia menuju masyarakat global yang diharapkan. Mereka dihadapkan pada masalah keutuhan umat manusia yang tak pernah tuntas (the unfinished universe) tanpa sistem yang memadai.

NAMA TUHAN KESERATUS

Pada saat itulah kita perlu mengkaji-ulang Jalan Sufi yang pernah berhasil melahirkan individu-individu besar yang berkualitas universal. Tak berlebihan bila kita katakan, merekalah yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai pionir globalisasi daripada manusia modern yang tak pernah menemukan hakikat dirinya. Ini berdasarkan kenyataan bahwa mereka lebih tulus dalam menyikapi sesama manusia, tanpa pamrih selain Ridla Allah, dan tak mengenal putus asa di dalam ibadahnya mengembangkan kualitas hidup umat manusia.

Kondisi pribadi yang demikian tak mungkin terwujud tanpa pendadaran internal yang matang dan sarana teknis yang memadai. Dan kita pun segera memaklumi setelah kita menelaah respon mereka yang brilian terhadap informasi nabawi tentang nama-nama Tuhan. Pemandu mereka (Rasulullah SAW) telah mengajarkan 99 nama yang digunakan oleh Rabbul 'alamin untuk mencipta, memelihara dan mengembangkan semesta sampai mencapai kebulatan yang nyaris sempurna (unfinished; sifat bilangan 99). Tinggal satu nama yang tak diajarkan kepada mereka, yang harus ditemukannya sendiri lewat pengabdiannya sepanjang hidup. Itulah Sebutir Mata Tasbih yang terlepas dari untaiannya. Itulah Ismullahil a'zhom atau nama Tuhan yang keseratus, yang bila Allah dipanggil dengan nama tersebut, akan ditunaikan hajatnya.

Bila di dalam mencari nama Allah Yang Keseratus kita bersikap seperti mencari informasi keilmuan, maka dapat dipastikan kita akan gagal memperolehnya. Karena sebenarnya nama yang kita cari itu bukanlah sebuah objek di luar diri kita, melainkan subjek pencari itu sendiri.

KEUTUHAN EKSISTENSIAL

Dengan aset 99 nama Allah, Para Sufi mengembara dalam pengabdiannya untuk menggenapkan bilangan yang nyaris sempurna itu. Bila mereka berhasil mendapatkannya dalam wujud sifat kesadarannya sendiri, maka berubahlah sifatnya menjadi kudus, lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesamanya. Saat itu mereka berada dalam maqam sayidina Isa a.s. Manakala mereka mendapatkannya dalam wujud zatnya sendiri, maka muncullah dari dalam dirinya keyakinan yang bulat, energik, kreatif dan pantang menyerah. Tentu saja berwujud hasil cipta yang berdaya mampu mengubah struktur dunianya. Itulah maqam tertinggi yang ditemukan oleh sayidina Muhammad SAW. yang meruang dan mewaktu.

Transformasi eksistensial dari individu kecil mencapai individu besar, dilukiskan oleh Muhammad Iqbal dengan tepat dan indah di dalam karyanya Asrari Khudi: "Kejadianku arca belum selesai, cinta memahat daku dan aku menjadi manusia." Untuk mencapai kondisi kekhalifahan yang memadai di dalam memandu umat mencapai masyarakat global, kita tidak membutuhkan new image of man. Karena secara fitri umat manusia telah berada di sana (Lihat QS. Al- Baqarah, ayat 30), dan dalam kadar tertentu mereka telah terlatih merealisasi fungsi tersebut ke dalam lingkungan kecil kehidupannya. Misalnya perlindungan orang tua terhadap kelangsungan hidup keluarganya, sikap ramah dan manis terhadap yang lebih muda, upaya pengembangan kualitas hidup mereka dan pengorbanan yang ikhlas dari sang asyik kepada sang ma'syuk dan lain sebagainya merupakan aset fundamental yang diajarkan Allah lewat lingkung kehidupannya. Yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana sifat-sifat luhur yang sejak dini telah disemaikan oleh Rabbul 'alamin di dalam diri kita itu bisa tumbuh optimal dan men-semesta? Jawabannya adalah bagaimana kita bisa menemukan sebutir tasbih yang lepas dari untaiannya, yang tak lain menggarap diri kita sedemikian rupa sehingga layak untuk menggenapinya. Untuk itu kita tak perlu mengimpor atau pun mengadopsi metodologi dari mana pun, apalagi dari zaman yang telah usang. Jalan sufi selalu kontekstual dan dituntut relevan dengan zamannya.

Jelasnya, kita tak butuh nama lain, kabilah lain, paradigma lain, sarana teknis lain, teknis dasar lain, dan bai'at lain, selain yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, yaitu Islam. Hanya dengan kembali kepada pokok ajaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW, kita akan dapat merangkaikan kembali mata tasbih yang tersia-sia (diri kita) dalam untaiannya yang fitri. Dengan demikian, kita berharap dapat menolong umat manusia dalam menyelesaikan karya agungnya, membangun ummatan wahidatan di atas bumi tercinta ini. Insya Allah.

Sumber:

http://www.jaist.ac.jp/~rac/pub/kanigara/id/Home/asma.htm